Friday, January 7

Gayus di Sarang Penyamun

Sony Laksono a.k.a Gayus kembali menjadi buah bibir. Popularitas pesakitan kasus mafia pajak ini kian hari kian meroket. Gayus telah menjadi selebritis baru. aku punya keyakinan kalau popularitas Gayus melebihi popularitas si Dagu Lancip, yang berambisi besar menjadi RI-1 di 2014. Jangankan di kalangan menengah kota, di mata orang-orang "kecil" dan "terpinggirkan" pun namanya sangat-sangat familiar.

Nama Gayus mulai meroket sejak terkuaknya mafia pajak yang melibatkan sejumlah petinggi polisi dan aparat penegak hukum lainnya. sebagian orang meyakini bahwa Gayus tak lebih dari boneka mainan para mafioso yang banyak bercokol di institusi-institusi resmi negara. Tetapi sebagian lain juga meyakini bahwa Gayus adalah orang hebat. Banyak orang tersandera oleh keberadaan Gayus dan kasus yang membelenggunya. Meski kasus ini sudah berjalan cukup lama, namun hingga hari ini belum ada tanda-tanda titik terang. Beberapa orang memang sudah divonis bersalah, namun mereka ini bukan aktor-aktor kunci. kesimpulannya masih banyak mafioso kelas kakap yang belum tersentuh hukum sampai hari ini.

Kasus Gayus menjadi potret betapa terpuruknya penegakan hukum di republik ini.

Monday, November 10

Partai (T)engil Sejahtera

Tahu ndak yang dimaksud Partai Tengil Sejahtera? Itu lho, partai yang ke mana-mana menyebar mantra. Mantra untuk bisa masuk syurga karena dalam mantra itu mengandung misi susi. Misi suci untuk menyelamatkan dan menyucikan orang dari lumpur dosa.

Kok tiba-tiba jadi tengil? lha iya, wong sekarang ini mantranya sudah ngga dipakai lagi. Orang-orang di dalam partai itu sekarang percaya dengan kesaktian uang untuk masuk ke syurga. Jadinya gembok syurga oleh partai itu sekarang tidak dibuka lagi dengan mantra suci melainkan dengan uang. Ya, dengan uang partai itu buat iklan-iklan di mana-mana. Iklannya juga ga tanggung-tanggung. Moyang dari komunitas tertentu pun dieksploitasi. Partai ini percaya bahwa tuah para moyang ini masih bisa menyihir orang kebanyakan dan tentunya bisa mendatangkan uang. Bahkan untuk mengeksploitasi gambar para moyang ini, Partai Tengil Sejahtera tak perlu minta ijin. Dalihnya, para moyang ini kan hak milik bangsa. Milik semua orang, mengapa harus perlu repot-repot minta ijin? Begitu alasan yang dikemukakan.

Ah, kenapa harus dipersoalkan ketengilan partai itu? memangnya partai lain ga ada yang tengil? Memang, partai-partai lain juga tak kalah tengilnya, tapi bagusnya mereka itu sudah jujur mengaku sebagai partai Tengil. Nah, untuk partai satu ini, partai yang sedang digosipin, mereka tidak pernah mengakui sebagai partai tengil. Apa pasal? Karena mereka bergerak dan menghimpun diri di atas panji-panji suci. Mantra dan kunci syurga yang tak bisa dibeli dengan uang, tetapi malah harus dengan pengorbanan. Malangnya, kini mantra dan kunci syurga itu sekarang cuma jadi komoditas jualan. Apalagi tujuannya kalau bukan untuk memang. Belum lagi karena mereka juga tidak punya moyang yang merupakan kader partai sebagai ikon atas keteladanan dan ketokohannya. Makanya, jalan pintas yang dipakai adalah menjual gambar moyang orang lain. Tak peduli meski pemiliknya protes.

Selamat datang Partai Tengil Sejahtera Indonesia, selamat berkompetisi dan selamat adu ketengilan, sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan...:-)