Showing posts with label Lain-lain. Show all posts
Showing posts with label Lain-lain. Show all posts

Tuesday, September 16

21 orang Mati jadi tumbal 'Zakat'

Miris benar ngikutin berita dua hari ini. Hanya untuk mendapatkan 30 ribu perak, 21 orang mati terinjak-injak. Hanya 30 ribu, ya hanya 30 ribu. Jumlah uang ini mungkin tidak ada artinya bagi sebagian orang di Jakarta. Uang itu mungkin hanya bisa ditukar dengan 2 piring nasi padang, atau 3 piring nasi warteg. tetapi bila harus ditukar dengan nyawa? Sungguh betapa tidak berharganya nyawa manusia di negeriku ini.

Eiit..eitt, tapi tahan dulu. Bisa jadi uang itu tidak ada artinya bagi sebagian warga Jakarta. Sedangkan seorang tukang parkir, tukang lapak, penjual asongan, atau pemulung sekalipun di Jakarta dalam sehari bisa memperoleh 2 kali bahkan mungkin 3 kali lipat dalam sehari. Tetapi, bagi 21 orang yang ikut menjadi tumbal ngantri sedekah itu, jumlah uang itu pasti sangat-sangat berarti. bagaimana tidak berarti, jika mereka rela harus datang jauh-jauh, mengantri seharian di rumah pak Soikhon itu. Mungkin, bagi orang-orang ini, 30 ribu bisa untuk menyambung hidup 2, 3, bahkan empat hari. hitungan ini bisa masuk akal, andai sepiring nasi di desa-desa tempat korban itu berasal bisa dibeli dengan harga 2 atau 3 ribu perak.

Anda pasti berpikir, mana ada nasi sepiring seharga 2 atau 3 ribu perak? Ada, percayalah. Masih banyak orang di pelosok negeri ini yang bisa hidup hanya dengan membelanjakan uang 5-10 ribu perak sehari. tentu tidak fair kalau membandingkan menu yang mereka makan dengan menu keseharian mayoritas orang di Jakarta. Jangankan makan sepiring nasi, sedangkan tarip kencing saja di jakarta 1000 perak, beli sebotol air mineral bisa 3 ribu perak, atau tarif parkir progresif di mall-mall yang bisa berlipat-lipat. Tapi, di desa orang tidak perlu uang kencing, uang parkir atau uang buat beli sebotol air mineral. Mereka bisa parkir---kalau ada yang diparkir---di mana aja mereka suka. Bebas bea. Mereka juga tak perlu susah-susah beli air mineral, karena air bersih banyak tersedia di kampung-kampung. Kalau perlu cukup menciduk dari sumur atau sumber mata air yang ada.

Yang aku habis tidak pikir, kenapa Pak Soikhon masih menggunakan cara konvensional ini, meski tahun lalu tindakan 'gegabahnya' sudah merenggut nyawa dua orang. Apakah pak Soikhon tidak percaya terhadap lembaga amil zakat? Apakah Pak Soikhon ingin meneguhkan diri sebagai seorang dermawan di kampungnya? Mengapa dia tidak melibatkan polisi padahal mengundang ribuan orang di lokasi yang rentan dan berisiko tinggi? Mengapa..mengapa...mengapa?

Dulu, waktu kelas empat SD, aku ingat persis bagaimana bu Chusnuraini mengajukan pertanyaan, "apa singkatan BAZIZ?". Dan aku satu-satunya yang bisa menjawab saat itu, Badan Amil Zakat Infaq dan Shodaqoh. Tentu aku ingat, karena papan nama kantor ini aku lewati setiap hari kalau mau berangkat sekolah diniyah. Dan kebetulan, Baziz di desaku dulu pernah memperoleh penghargaan terbaik tingkat provinsi.

BaZIZ, atau di tingkat nasional sekarang ada BAZNAS, seyogyanya bisa menjadi alternatif penyaluran zakat, sedekah bagi orang-orang yang kelebihan harta. Tempo hari, seseorang dari PKPU bercerita kalo aset yang dikelola BAZNAS saat ini sudah mencapai ratusan miliar. Bukan angka yang kecil, dan berpotensi menggelembung lagi di tahun-tahun mendatang.

Cerita 'sukses' BAZNAS adalah cerita baik. Cerita tentang performance umat Islam dalam mengelola aset ekonominya. Semoga saja kemajuan BAZNAS dalam mengelola harta zakat ini paralalel dengan dengan kemajuan bank-bank syariah.

Friday, February 15

Kawis Ulee Kareng, khas Rembang atau Indonesia ?

Di sebuah blog, pemiliknya menyebut kalau buah Kawis (Limonia acidissima L) adalah buah khas Rembang. Kalau disebutkan khas Rembang, aku tidak sependapat. Kalau disebutkan asal Rembang, aku belum yakin. Pasalnnya buah ini bisa ditemukan di banyak tempat. Selain di Rembang, Kawis juga bisa ditemukan di Pati, Ponorogo, bahkan di Aceh. Aku juga pernah melihat satu pohon yang tumbuh di tetangga kampungku di Maospati. Persisnya di halaman masjid Al-fatah, Karangrejo-Magetan.

Ternyata benar, setelah aku telusuri buah ini bisa dijumpai di banyak tempat. Bukan hanya di Indonesia, tetapi juga di India, Sri Lanka, Burma dan Indo Cina. lengkapnya lihat di sini.

Kawis, aku kenal dan aku nikmati saat kelas 4 SD. Waktu itu aku sempat pindah sekolah ke Ponorogo. Mbok-mbok yang lewat depan rumah yang mengenalkanku dengan buah ini. Gendongan senik--kranjang bambu--dipunggungnya selain diisi kawis, juga tempe, capar, ganteng--orang jakarta menyebutnya Taoge--dan sayuran lainnya. Tiap pagi si mbok itu lewat depan rumah dan pasti mampir.

Buah ini kulitnya keras. Untuk membelahnya tidak bisa dengan pisau. Mungkin perlu bantuan alat pemecah, bukan pengupas seperti pisau. Kalau aku dulu pakai cara praktis, tak kepruk di lantai, atau dipecah dengan batu, balok kayu atau gagang pisau besar. Buah ini seukuran kepalan tangan orang dewasa, atau sedikit lebih besar. Kulitnya berwarna coklat muda, atau mungkin lebih pas warna krem. Kalau sudah masak, dagingnya berwarna coklat gelap, nyaris hitam, dengan jumlah biji yang lumayan banyak.

DI Ponorogo, tempat aku dulu tinggal, Kawis dikenal sebagai buah untuk dimakan. Belum dikenal sebagai bahan sirup seperti yang dikembangkan di Rembang. Kawis yang sudah dipecah, daging buahnya ditaburi gula pasir. Lalu diaduk rata dengan sendok. Selasai, siap disantap. Kalau tanpa gula rasanya asem, tapi setelah ditaburi gula, rasanya asem kemanis-manisan, atau manis keasem-aseman. Aromanya yang paling aku suka. Sangat khas, dan aroma inilah yang sering membuatku kangen untuk memburu buah ini.

Beberapa tahun setelah tidak di Ponorogo, aku memburu buah ini. Sekedar untuk menghilangkan "ngidam" saja. Tapi simbok itu ternyata sudah meninggal. Aku mencoba menelusuri ke pasar besar, Pasar Legi Ponorogo. Sayang, buruan gagal kutemukan. Beberapa tahun kemudian aku dapat informasi dari media tentang pemanfaatan Kawis sebagai bahan dasar Sirup. Industri sirup Kawis, menurut laporan media itu banyak terdapat dirembang. Malah, Kawis dilabeli sebagai buah khas Rembang. Sejauh ini memang daerah yang mengembangkan industri sirup dari Kawis cuma Rembang, atau sebagian terdapat di Pati. Keduanya di pesisir utara Jawa Tengah.

Awal tahun lalu (2007), aku berkesempatan dapat tugas ke Aceh. Di sebuah pasar tradisional, Ulee Kareng. Tidak jauh dari kedai kopi Solong yang sangat mashur itu. Aku juga tidak sengaja menemukan buah ini. Hari itu aku berniat beli pisang, eh kok mataku menangkap buah yang sekian lama aku buru. Akhirnya kubeli satu buah itu. Di Ulee Kareng, Kawis yang agak besar dijual dengan harga Rp. 5000,-. Aku tidak tahu, berapa harga sebuah Kawis kalau di Rembang. Dugaanku pasti jauh lebih murah. Di Aceh, semuanya memang serba mahal. Nah, Kalau di Ponorogo dulu, tahun 80-an, mungkin harganya masih puluhan saat itu. Aku lupa persisnya karena tak pernah bayar, alias tinggal makan.

Beda Rembang, beda Ponorogo, beda pula Aceh. Kawis di Aceh bukan untuk dimakan, atau dibuat sirup seperti di Rembang. Buah yang oleh orang Aceh disebutnya dengan nama BUAH BATU--mungkin terinspirasi oleh kulitnya yang keras--ini menjadi campuran bumbu rujak. Belum pernah aku melihat orang Aceh makan Kawis. Rujak Aceh yang segar dengan aroma khas itu, ternyata dibumbui Kawis. Hmmm...membayangkan saja sudah keluar air liur nih. Jadi pengen makan Kawis.

Sunday, October 14

SMS, LEBARAN, copy paste

"Mau tahu idola kamu berlebaran? Ketik : REG Yenni, kirim ke 08129989xxx. Nah, sms Minal Aidin Wal Faidzin, langsung dari HP aku lho :-)Maaf lahir batin y..". Begitulah sms dari yenni yang masuk ke HP ku di hari lebaran kemarin. Kalau Farah lain lagi. Begini sms-nya : "everytime I hear my message tone, I hope one of them comes from you. My phone has limited memory but my heart has unlimited space for u. Minal Aidin wal faidzin, :-)"

Atau yang agak "heroik" adalah sms dari Chalid Muhammad. Aku lupa persis bunyinya, karena keburu sudah kehapus, tapi intinya diawali dengan peringatan pemanasan global, penggundulan hutan, dan ancaman bencana geo-ekologis yang mengintai di depan mata. Lalu ditutupnya dengan doa dan ucapan selamat lebaran.

Tiga sms itu boleh dibilang satu dari sedikit yang "kreatif". Meski aku tak yakin itu benar-benar orisinil dari pengirimnya, tapi setidaknya ketika membaca aku tersenyum simpul. Dari sekian banyak sms yang aku terima, nadanya seragam. Semuanya baik memang, berisi ucapan selamat, doa dan pengharapan. "Selamat Idul Fitri 1 Syawal 1428 H, mohon maaf lahir & batin, minal aidin wal faidzin, taqaballahu mina wa minkum, dan semacamnya. Ucapan-ucapan dalam sms itu baik adanya. Tapi kadang 'membosankan' dan klise atau bisa jadi sekedar basa-basi.

Aku tak bermaksud menuduh. Tetapi kalau tak cermati (ini subyektif tidak apa-apa ya!)banyak diantara sms lebaran itu yang tidak dilandasi oleh niatan tulus permohonan maaf, atau bahkan ketulusan untuk ucapan selamat sekalipun. Banyak sesungguhnya sms yang dikirim dari satu orang ke orang lain punya misi-misi tertentu. Setidaknya orang ingin menjukkan eksistensi dirinya. Secara implisit, orang yang mengirim pesan itu ingin menunjukkan, "gua sekarang ketua ini lho, gua sekarang posisinya ini lo, atau gua ingin loe selalu mengingat nama gua".

Selalu mengingat nama orang lain---teman, kolega, sahabat, mitra, dsb---tentu saja dianjurkan karena itu bagian dari cara bersilaturahmi. Meski tak bisa hadir secara fisik, sms-pun jadilah.

Friday, April 6

Ke Pulau "Laskar Pelangi"

Tiba-tiba aku berhasrat mendatangi Belitong. Belitong, Belitung, apapun ejaan yang tepat yang jelas membuatku penasaran untuk menjejakkan kaki di sana. Ini bermula dari novel hadiah ultah kemarin dari member of Trio kwek-kwek. Sebut saja Atak, gadis "blasteran" ini benar-benar membuat setiap pertemuan jadi cheerfullll. Semua dibuatnya terpingkal-pingkal. Sakit perut aku dibuatnya setiap ketemu sama dia.

Laskar Pelangi, begitu judul novelnya. Meski aku punya beberapa kritik terhadap novel karya pegawai Telkom ini--Andre Hirata--secara keseluruhan aku terpuaskan membacanya. Laskar Pelangi menceritakan perjuangan 10 anak-anak yang kurang beruntung dalam mengejar mimpinya. Mereka, bertungkus lumus, meski dengan fasilitas pendidikan yang serba terbatas, tak menyurutkan semangat belajarnya untuk meraih cita-cita. Tak perlu kuceritakanlah, bagaimana kisah lengkap Laskar Pelangi itu, nanti kalian tidak penasaran lagi...

Belitung, Belitong, dari dulu biasanya disebut selalu bersanding dengan Bangka. Bangka dan Belitung, adalah penghasil timah terbesar di Indonesia. itu pengetahuan pertamaku saat belajar geografi di kelas empat SD dulu. Bu Chusnuraini--Bu Nur--memaksa anak-anaknya untuk menghafal semua keunggulan daerah di Indonesia, tak terkecuali Bangka-Belitung.

Referensiku tentang Bangka-Belitong makin bertambah, setelah aku memasuki dunia kerja. Apalagi kalau bukan urusan tambang timah itu. Dari Kompas, aku juga sempat mengikuti beberapa tulisan investigasi tentang tambang timah di Belitong. Soal PT Timah Tbk yang terancam gulung tikar, atau penambangan timah illegal di sana yang mengancam masa depan warga Belitong.

Belitong dianugerahi kekayaan alam melimpah berupa bijih timah. Namun toh kekayaan itu tidak membuat semua rakyat Belitong makmur sejahtera. Laskar Pelangi dengan apik mengilustrasikan kesenjangan di sana. Di satu sisi, PT Timah Tbk., dan gemerlap fasilitasnya bersanding dengan kehidupan warga Belitung yang tak beranjak naik. Puluhan tahun timah dikeruk dari pulau itu, namun masih ada SD Muhammadiyah dengan atap bocor, tiang penyangga yang doyong, dan tentu saja kesejahteraan gurunya yang jauh dari pantas. Mereka mau menularkan ilmunya semata-mata karena keikhlasan.

Sampai hari ini belum kutemukan rumus yang tepat, mengapa kehadiran industri tambang tidak pernah bergaris lurus dengan kesejahteraan masyarakat sekitarnya. Di atas kertas, keuntungan usaha tambang, di manapun seharusnya bisa memakmurkan, minimal memperbaiki tingkat kehidupan warga sekitarnya. Nyatanya, kesejahteraan itu selalu dan selalu hanya dinikmati segelintir orang; mereka yang bekerja di perusahaan itu dan pejabat-pejabat pemerintah yang seringkali dapat cipratan kue dari perusahaan.

Belum lagi soal kerusakan lingkungan. Tak terbantahkan, pencemaran selalu terjadi oleh beroperasinya perusahaan tambang. Tak perlu berdebat soal ini. Meski dari waktu-ke waktu, belum satupun pihak yang bisa menyeret perusahaan tambang ke "kursi pesakitan" karena pencemaran yang dilakukan. Semua kasus pencemaran lingkungan, selalu mentok oleh argumentasi AMDAL. Padahal semua orang juga tahu, bagaimana proses AMDAL dibuat, siapa orang yang duduk di dalamnya, termasuk siapa yang membiayai AMDAL itu. Jika perusahaan yang mensupport biaya AMDAL, bagaimana mungkin hasilnya obyektif. Tak pelak lagi, belum pernah ada perusahaan tambang yang gagal beroleh ijin karena AMDAL-nya tidak lolos.

Kembali ke Pulau Belitong. Keinginan dan tekadku sudah bulat. Suatu waktu, aku akan menyegajakan diri untuk mendatangi pulau itu. Selain soal timah yang menjadi "suar" publikasi nasional, keberadaan komunitas Tionghoa di sana juga membuatku makin penasaran. Konon khabarnya, komunitas Tionghoa di sana tak ubahnya dengan kaum pribumi lainnya. Andre di Laskar Pelangi memperkenalkan istilah Tionghoa Kebun, sebuah sebutan untuk warga Tionghoa kelas dua yang hidupnya serba kekurangan. Mereka bertani, berkebun, sebagaimana kehidupan kebanyakan masyarakat Belitong. Mungkin kondisinya tidak jauh berbeda dengan Kalimantan Barat, dimana komunitas Tionghoa cukup banyak di sana. Yang unik tentu saja, mereka benar-benar membaur satu sama lain. Tak ada istilah diskriminasi ras, atau kecemburuan sosial yang selama ini dikipas-kipasi seperti di kota-kota lain di Indonesia. Kalau tidak salah, orang nomor satu di salah satu kabupaten di wilayah ini juga dipegang oleh orang Tionghoa. Apakah dengan begitu Belitong menjadi tanah impian buat kaum Tionghoa? Entahlah. Aku tetap ingin ke sana...Tuhan, kabulkan niatku ini.

17 Maret 2007

Wis nate duwe gacoan, Mas?

“Bener ya mas, sampean durung nate duwe gacoan?” Pitakonan iku kiro-kiro wis telung taun kepungkur disampekna konco wadonku saka Indonesia timur. Tak jawab durung, deweke ora ngandel. "Ah, ora ngandel aku”, tembunge bocah iku. “Ora ngandel yo wis. Seumur-umur angger nembung wong wadon, mesthi ora gelem kok, alias ditolak”, jawabku rada isin.

E...lha kok wulan wingi ono maneh bocah wadon sing nyoba klarifikasi, mestekne apa tenan aku iki durung nate duwe gacoan (pacar). Koyo jawabanku telung taun kepungkur, kanthi manteb aku jawab maneh yen nganti saiki aku pancene durung nate pacaran. Tetep wae bocah wadon iki ya tetep ora percaya. Jarene, aku ora ana tampang blas yen durung nate pacaran. ”Durung nate 10 kali paling!”, jare bocah wadon iku semu ngece.

Wee..lah, dikandani kok ora percaya, ya wis, mangsa bodoa. Ning sejatine kanggoku ora penting. Wong liya percaya apa ora karo kasunyatan urip sing tak alami saiki. Percaya mongso bodoa, ora percaya ya mangsa bodoa.

Yen dibayangke, koyone pacaran iku nyenengkeh. Koyo neng pilem-pilem lan sinetron iku. Ndonya koyone mung duweke wong loro, isine seneeeeng thok. Sok-sok nganggo ambung-ambungan barang, rambute dielus. Sing wadon nyendenke sirahe neng pundake sing lanang, utawa sewalike. Wah, jan...sok-sok yo kepengen tenan. Nanging nganti saiki mung iso dibayangke thok. Hiks..mesakke tenan yo? Ora opo-opo. Wong aku ora ijenan. Okeh tunggale, senajan umure meh expired alias nyedaki uzur, nanging durung tau pacaran.

Salah sijine, koncoku soko Lamongan. Bocah iki, jenenge nganggo isial A. Ora usah tak arani jeneng komplete, mengko mundhak disemoni aku. Yen dibandingke karo bocah iki, aku yo sik rada mongkog sithik, sik mendingan lah. Yen aku wis bola-bali ditolak, lha yen koncoku iki, yo wis tahu seneng karo bocah wadon. Yo wis tahu nembung, nanging yo nasibe podo karo aku, bocah wadone ora tahu gelem. Bedane, yen aku luwih sering ditolake, tinimbang deweke. Aku ora ngandel, yen koncoku ini ora luwih soko ping telu nembung bocah wadon. Luwih sering koyone si A iki yen seneng karo bocah wadon mung dibatin.

Ono maneh koncoku, inisial jenenge S. Asline soko Gresik. Lha kebetulan, si S iki manggone kok sak omah karo si A. Wis, nasibe podo koyone. Malah koyone luwih nelongso sithik. Koyo-koyone malah durung tau nembung bocah wadon, opomaneh duwe gacoan. Tapi ya mbuh ya, wong aku ora pati dong sejarahe si S iki. Jan apik tenan lho si A lan si S iki. Loro-lorone iso diarani pinterlah. Utek-e lumayan encer, sering nulis. Malah sok-sok nggawe puisi barang. Sing ngedab-ngedabi, si S iku malah hafidz Qur’an. Opo ora hebat? Tapi mergo hafidz Qur’an iku, mungkin bocah-bocah wadon padha sungkan yen sak jane seneng karo deweke.

Sing jelas, aku si A, lan si S, nasibe ora beda adoh. Durung nate duwe prestasi, duwe gacoan. Saiki menawa adu cepet-cepetan oleh gacoan, koyo judul pilem “40 hari mencari Cinta”, koyone bocah telu iki (termasuk) aku, tetep ora bakal kasil. Yen wis ngono, yo nunggu pepesthen urip wae, sopo ngerti Gusti Allah ujug-ujug ngirim bocah wadon uaaaayu, banjur dirabi langsung wae.

04 Maret 2007

Isih iso boso Jowo???

Nalika semana, Bu guru ngajari aku lan murid-murid liyani nulis aksara Jawa. Ha-na-ca-ra-ka; da-ta-sa-wa-la; pa-da-ja-ya-nya; ma-ga-ba-tha-nga. Ngendikane bu guru, aksara Jawa iku ana ceritane. Salah sijineng raja, ngutus pangeran loro, ngeterne pusaka (keris). neng dalan, pangeran kekarone pada sulaya utawa padu. Pangeran siji nyabut warangkane (sarung) keris, liyane oleh kerise. Terus kekarone tusuk-tusukan, banjur mati kabeh.

Aksara-aksara iku isih aku apal nganti saiki. Nanging yen dikon nulis, aku wis okeh sing lali. Mbiyen apal "luar kepala" (ukara ini ora ana gantine neng basa Jawa). Saben minggu, bu guru mesthi maringi PR, nyalin aksara Jawa dadi tulisan utawa tulisan latin, lan sewalik-e. Bu guru uga maringi imla' utawa dikte nulis aksara jawa. Makane aku lan konco-konco nganti kelas enem SD, lanyah utawa lancar nulis aksara Jawa.

Saiki nganggo boso Jawa wae angel tenan, padahal mung boso ngoko. Apomaneh yen nganggo boso Jawa krama inggil, wis malah tambah akeh aku sing lali.

Sakliyane nulis aksara Jawa, bu guru uga ngajari awalan, imbuhan lan akhiran basa Jawa. Aku wis lali babar pisan, apa iku istilahe. Contone, penak oleh awalan lan akhiran, dadi ke-penak-en, lan liya-liyane. Sing paling tak senengi biyen yen konco-konco oleh tugas ngapalne jeneng-jeneng anak kewan lan arane kembang wit-witan.

Anak gajah iku jenenge Bledug, anak cecak jenenge sawiyah, anak kebo jenenge gudel, anak sapi jenenge pedet, anak wedhus jenenge cempe, anak menthok jenenge minthi, anak boyo jenenge krete, anak pitik jenenge kuthuk, anak bandeng jenenge nener, anak kethek/monyet jenenge kowe, anak asu jenenge kirik, anak macan jenenge gogor.

Lha yen arane kembang-kembang wit-witan: kembang kopi (maya), kembang kambil (manggar), kembang tebu (glagah), kembang jambe (mayang), kembang asem (......wis lali), kembang jambu (....wis lali), kembang gedang (tuntut utawa ontong), kembang nangka (....wis lali), ...............lan akeh banget aku sing wis lali.

Senajan wis okeh sing lali basa Jawa, yen bali ngomah aku isih terus nganggo basa Jawa. Yen matur karo ibu aku yo sik iso nganggo basa krama inggil, nanging ya campuran ngoko barang. Soale wis akeh sing lali. Mergo iku, aku kerep mikir yen tekan titi mangsane, koyo-koyo basa Jawa iku bakal ilang. Kira-kira basa krama Inggil wis ora dienggo rong abad saka saiki, kalah karo basa Indonesia.

Lha banjur piye carane ben basa Jawa iku ora ilang? yen kepethuk konco-konco lawas saka Jawa, aku biasane tetep nganggo basa Jawa. Kejaba ana wong liya suku sing ora ngerti basa Jawa, kanggo ngajeni yo kepeksa tetep nganggo basa Indonesia. Ah..pancen angel tenan saiki nganggo basa Jawa. :-)

3 Maret 2007

Lelucon (Bencana) yang tidak lucu

Siang itu, sebuah sms masuk ke hpku, bunyinya kira-kira begini : "Tonton METROTV sekarang ! Pesawat Adam Air sudah diketemukan di kawasan Majene. Korban meninggal dipastikan 89 orang, 2 orang kritis, 3 balita terapung di laut, 9 orang dinyatakan hilang, dan.........1 ORANG TERTIPU".

Begitu membaca pesan itu (tanpa memperhatikan frase terakhir) aku langsung melompat dan berteriak, "Adam Air sudah ketemu!". Sontak orang-orang yang ada di sekitarku (ada 4 orang, jadi yang tertipu bukan cuma satu, 4 + aku = 5 orang)mengikuti gerak tubuhku ke arah TV di pojok ruangan kerja. TV butut buatan Korea itu pun aku nyalakan. Tombol channel---maklum tidak ada remote control-nya--aku pencet dengan harap-harap cemas. Begitu kudapatkan channel METROTV, yang muncul adalah iklan sebuah produk kecantikan (belum ada produk ketampanan hingga hari ini he!). Aku terus menunggu dari iklan yang satu ke iklan yang lain. Yang ditunggu-tunggu tak muncul juga. Tiba-tiba temanku nyeletuk, "Jangan-jangan ditipu loe!".

Tanggap dengan celetukan itu, akupun melihat lagi sms dari karibku yang hari itu "kurang ajar" itu. Dan ternyata benar, aku dan 4 orang temanku memang benar-benar tertipu. Gerutu dan "umpatan jenaka" meluncur dari mulut teman-temanku. Aku cuma bisa cengar-cengir. Oalah, sudah nasibku..tak ada bedanya dengan kepanikan orang di daerah yang pernah diterpa isu tsunami. Lari tunggang-langgang, tubruk sana-tubruk sini, lompat sana lompat sini. Tak peduli orang yang ditubruknya kemudian luka, bahkan harus menemui ajal.

Sampai di situ, aku masih melihat sms itu sebagai lelucon. Maka ku forward-lah sms dari NIPIRA itu ke sejumlah teman. Seperti yang telah kuduga, "korban-korban" tipuan sms ini pun berjatuhan. Aku tak bisa membayangkan ekspresi mereka yang benar-benar tertipu seperti diriku, apakah nyengir, mengumpat, atau tertawa ngakak, atau mungkin juga mengutukku karena tak tahu diri. Tidak punya empati terhadap orang yang kena musibah.

Tidak punya empati, atau sense of disaster-nya tidak ada. begitulah, kesadaranku tersentak saat seorang temanku aku kirimi sms itu, dan balasannya mengejutkan: "Aiy, gila loe min, musibah dibuat becandaan. Ada saudara gua di situ. Sekarang kita lagi harap-harap cemas"!

kali ini aku tak bisa senyum. Menyadari kesalahan yang aku lakukan. "Maaaaaaaaaaaf", begitu sms itu aku reply. Aku tersadar kemudian bahwa sms itu, dengan maksud apapun tidak boleh dikirim sembarangan. Ya, aku berjanji untuk menghapus sms itu dan tidak menganjurkan siapapun untuk membuat sms serupa.

Tadinya, maksudku memforward sms itu tiada maksud lain kecuali becanda. Seperti juga maksud temanku yang pertama kirim sms itu, pasti hanya untuk iseng-iseng saja. Buatku, sms itu tak lebih dari lelucon, ekspresi dari ketidakpercayaan terhadap pemerintah kita yang fatal mengeluarkan informasi tentang penemuan Adam Air seminggu sebelumnya. Duh, bagaimana mungkin seorang gubernur dan seorang Dan Lanud TNI AU mengeluarkan misleading information. Mereka mestinya bisa digugat untuk dimintai pertanggungjawaban.

Cukup sekali ini saja membuat lelucon (bencana) yang tidak lucu ini. NIPIRA, renungkanlah itu.............!

Ba'da Magrib, disandera astri nunggu kirim email.

09 January 2007

Bukan Abdoel Namaku

Setiap diri, pasti memiliki lebih dari satu nama. Nama di akte kelahiran, panggilan akrab, panggilan sayang, nama olok-olok, nama selebritis, nama di kartu identitas (KTP, SIM, rekening Bank, kartu kredit), atau nama samaran. Aku sendiri memiliki beberapa nama.

Aku terlahir dengan nama Baladan Aminan. Penggalan ayat di Surat Al-Baqarah yang juga doa Ibrahim, artinya “Negeri yang aman Sentosa”. Sebenarnya aku suka dengan nama ini. Setahuku sampai sekarang belum ada orang dengan nama itu. Jika nama itu terus aku pakai, mungkin aku satu-satunya orang di dunia ini yang memiliki nama itu. Anehnya, kakakku tak setuju dengan nama itu. “Nama kok Baladan Aminan?”, katanya suatu kali.

Nama itu pemberian Bapakku (alm). Aku tak pernah tahu, mengapa Bapakku memberikan nama itu. Bahkan sampai bapakku meninggal, aku tak pernah berkesempatan menanyakan alasan apa yang mengilhami bapakku dengan nama itu. Soal nama, bapak memang sering diminta memberikan nama oleh orang-orang di kampungku. Aku tak tahu persis, berapa banyak orang-orang yang diberi nama atas rekomendasi bapakku. Mungkin karena bapakku sedikit mengerti bahasa Arab, maka orang-orang memercayainya untuk memilihkan nama. Ada Rosyidi, tetangga depan rumah, ada Rasyidi di pojok tikungan jalan. Juga ada Djamilah, tetangga jauh lainnya.

Di keluarga dekat, nama tinggalan Bapak : Muksin, Mu’in, Siti Rodliyah, serta nama-nama berbau Arab lainnya. Meski kakakku pernah mengungkapkan ketidaksetujuannya, bapak tetap konsisten dengan nama yang diberikan padaku. Saat aku didaftarkan di sebuah Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN)—aku cuma merasakan satu caturwulan di Madrasah—bapak mendaftakan aku dengan nama Aminan. Entah mengapa bapak tidak menyertakan Baladan di depan kata Aminan. Maka teman-temanku saat itu tahunya namaku ya Aminan.

Nama itu kini hanya menjadi bagian dari sejarah masa laluku. Meski begitu, sisa-sisanya masih ada sampai sekarang. Pakdhe, Budhe, Paklik, Bulik, juga beberapa sepupuku masih ada yang memanggilku Aminan sampai sekarang. Ini terjadi hanya pada moment-moment tertentu saja. Hanya setahun sekali. Saat aku bertandang ke rumah-rumah mereka di hari lebaran. Di luar itu, aku tetaplah Aku. Orang mengenaliku sebagai AMIN.

Nama Olok-olok

Waktu kecil aku sering bertengkar dengan adikku. Kalau bertengkar, adik perempuanku selalu mengolok-olok aku dengan damen, damen, damen. Ngga tahu dari mana adikku dapat kata-kata itu. Tapi aku jelas jengkel waktu itu kalau dipanggil damen. Mungkin damen diambil dari amin, lalu amen, lalu damen. Asal tahu saja, damen di kampungku adalah sebutan untuk batang padi yang sudah dikeringkan. Biasanya untuk makanan ternak (sapi, boss!). Makanya kata damen berkonotasi jelek. Makanan ternak. Marahlah aku bah!, kalau dikatain begitu hehe. Tapi syukurlah, Cuma adikku yang memanggilku begitu. Tak sampai diadopsi teman-teman sebaya waktu itu.

Olok-olok lainnya, satu-dua orang teman di SD memanggilku Minthun. Tentu ini diambil dari kata A-min, lalu minthun. Seperti halnya olok-olok damen, panggilan minthun terhadapku juga tidak bertahan lama. Kalau tidak salah cuma sampai kelas dua atau kelas tiga SD. Sejujurnya, aku diselamatkan oleh keadaan. Karena waktu naik ke kelas empat, aku pindah sekolah ke lain kota. Tak ada teman baruku yang memberi olok-olok itu, ataupun dengan olok-olok baru.

Nah, olok-olok terakhir yang aku sandang adalah : MINCES. Ini olok-olok yang aku sandang setelah tinggal di Jakarta. Biangnya cuma satu orang, dan yang memanggil itu cuma satu orang (ga usahlah aku sebut namanya orang itu). Gara-garanya ada orang yang sering bertandang ke kantorku yang bernama MINTJE (asli dari Ambon sana), tapi sering dipanggil Minces. Cas..ces..cas..ces aja teman-temanku memanggil perempuan ‘tangguh’ ini. Sampai sekarang, teman yang menggelariku Minces ini kalau ketemu ya masih cas..ces..cas..ces saja. Kayaknya tradisi anak-anak pecinta alam terbawa-bawa sama nih teman.

Mengapa Abdoel?

Tidak hanya satu orang yang berusaha mencari tahu, mengapa namaku menjadi Abdoel. Orang-orang yang penasaran dengan nama baruku, tak pernah kutanggapi. Setiap ada yang menyinggung itu, kubiarkan berlalu saja. Tidak penting gitu lohh !

Abdoel, waktu itu aku tulis spontan saja. Meski alasannya waktu itu memang bermaksud menyamarkan diri di situs Fs. Maklum, aku ngerasa terlalu tua untuk nimbrung di Fs. Malu hati gitu. Aku sadar sepenuhnya, cara yang kutempuh ini diluar kelaziman. Melanggar kaidah-kaidah ber-Fs. Kalau niatannya ikut Fs, ya harus membuka diri, siapa diri kita yang sebenarnya. Apalagi soal nama, mestinya ditempatkan sebagai hal yang pertama dan utama tentang keterbukaan dan keterusterangan kita.

Kalau kemudian aku memilih nama Abdoel, ilhamnya aku dapat sepert ini : Bapakku, selalu menamai kitab-kitab koleksinya dengan Abdullah Kirom. Kalau orang Jawa suka mengejanya dengan Ngabdolah kirom. Persis seperti mengeja Arifah menjadi Ngarifah, Aisyah menjadi Ngaisyah, Aliman menjadi Ngaliman, Abdurrahman menjadi Ngabdurrahman, Ahsanu ‘Amala menjadi Ahsanu Ngamala, atau Adenan menjadi Ngadenan. Cara mengeja yang salah kaprah. Padahal tidak semua kata-kata yang dieja dengan Nga itu mewakili huruf ‘Ain dalam bahasa Arab, tetapi ada yang mewakili huruf Alif.

Abdoel, aku ambil dari Abdullah Kirom itu. Aku sendiri sebenarnya bingung dengan nama Bapakku. Di kitab-kitabnya tertulis Abdullah Kirom, tetapi di semua ijasahku tertulis Muhammad Kirom, biasanya tertulis Moch. Kirom. Orang kampungku kadang mengenali-nya dengan pak Amat Kirom. Oalah wong ndeso, wong ndesoo…, Muhammad kok jadi Amat. (Maklumlah, buta bahasa arab, dan lidah Jawa yang kebanyakan ngemut yang manis-manis hehehe).

Hi honey, panggilan sayangmu siapa? Atau olok-olok macam apa yang pernah kamu sandang???? Ssssssttt….Tuhan melarang kita memanggil orang dengan sebutan atau gelar-gelar yang buruk. Ini di Qur’an lho!!! Karena dalam nama terkandung doa. Doa yang diberikan orang tua, agar pencapaian kita seperti arti di nama itu. Seperti namaku sekarang : Aminuddin (dobel D) Kirom (Ini nama tambahan, biar kalau ngurus paspor atau Visa gampang).

Jadi, besok-besok kalau mau menamai anak, jangan asal keren aja ya, atau sekedar penanda sesuatu. Sisipkanlah doa di dalamnya!! Nah, jelas kan sekarang? Namaku bukan Abdoel. Panggil Amin saja. Mas Amiiiiiiiiiiiiiiin…..sambil menggelayut (mengutip mba Henny Navilah, waktu mengevaluasi LPJ Ketua Umumku dulu). ###

08 November 2006

JANGAN PERCAYA

Seorang bos Gangster, suatu ketika memerintahkan anaknya untuk terjun dari lantai 3 sebuah apartemen. Tentu saja anaknya yang berusia 3 tahun itu takut setengah mati. Namun Sang Ayah terus meyakinkan si anak bahwa dia akan selamat. Ayahnya sudah mempersiapkan matras di bawah. Sambil terus membujuk, ayahnya berkata,"Terjunlah Nak, tidak apa-apa. Ayah akan membantumu agar tidak cidera".

Gangster, mafia-mafia, pebisnis, juga politisi memang diajari untuk tidak mudah percaya kepada orang lain. Orang dekat, teman, bahkan ayah dan anak sekalipun seperti ilustrasi di atas, tidak boleh dipercaya begitu saja. Dipihak lain, orang-orang seperti itu selalu berusaha keras meyakinkan orang lain agar percaya kepadanya. Dengan cara apapun, usaha untuk meyakinkan orang lain dilakukannya, agar dia beroleh kepercayaan.

Tidak mudah memang membangun sebuah kepercayaan. Kepercayaan tak bisa disandarkan pada niat baik semata. Butuh waktu dan pengorbanan hingga orang lain benar-benar pecaya atas niat baik kita. Tidak jarang niat baik kita disalahartikan. Niat baik kadang ditanggapi dengan rasa curiga. Orang-orang diselimuti ketakutan kalau-kalau niat baik kita kemudian bakal merampas haknya. Tetapi jangan lantas ketidakpercayaan itu diletakkan dalam matra ketiadaan akan niat baik. Ketidakpercayaan boleh jadi menjadi bibit dari niat baik itu sendiri. Bingung kan?

Di dunia bisnis, kepercayaan adalah prinsip nomor satu sebelum melangkah ke kerjasama bisnis selanjutnya. Para pebisnis mengenal yang namanya etika bisnis. Salah satunya adalah tentang kepercayaan itu. Sekali saja pebisnis melanggar etika ini, maka selamanya dia tidak akan pernah dipercaya. "Sekali lancung di ujian, seumur hidup tak akan pernah dipercaya", kata orang tua mentamsilkan masalah kepercayaan ini.

Masalahnya adalah, berapa banyak pebisnis yang memegang etika itu. Bisa saja para pebisnis---dari kelas teri hingga konglomerat---bisa saling percaya dengan rekanan bisnisnya, namun apakah hal yang sama berlaku untuk relasi bisnis dan konsumen? Bukankah konsumen---apalagi di Indonesia---selalu menjadi korban pelanggaran etika bisnis, baik oleh korporat maupun perseorangan yang bergerak di ranah itu.

Pelanggaran etika bisnis, yang lebih tepat disebut perbuatan kriminal itu terjadi di mana-mana. Mungkin kita terlalu sering mendengar, bagaimana para pemasok barang dagangan dikibuli para makelar Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta. Ada pemasok kelapa dari Pangandaran-Jawa Barat, mengaku dua kali ditipu orang Pasar Kramat Jati. Dua truk kelapanya 'diembat' tanpa pernah dibayar. Kapoklah dia. Ada juga pemasok Jeruk Bali dari Madiun yang mengalami nasib tragis serupa. Bisa dipastikan pula kalau pemasok duren dan duku Palembang menjadi korban orang-orang yang tak punya etika bisnis itu.

Di panggung politik, tipu menipu juga dianggap sebagai sesuatu yang lumrah. Para politisi Senayan, sudah pasti menggunakan rumus jual beli. Persis seperti tukang bisnis. "Ente jual, ane beli". Namanya saja pembeli, tentu yang diinginkan adalah harga yang semurah-murahnya. Di sini berlaku prinsip ekonomi. Politisi kelompok ini tak pernah melihat suara orang kebanyakan, bahkan suara konstituennya sekalipun sebagai sesuatu yang harus diperjuangkan. Baginya, kepentingan perut dan kelompoknya lah (partai) yang harus dinomorsatukan. Kalau tidak, bisa saja dia akan kehilangan jabatan.

Orang-orang di sekeliling kita, kadang tanpa kita sadari juga memanfaatkan kepercayaan yang kita berikan. Sebaliknya, mungkin kita juga tidak sadar telah memanfaatkan kepercayaan orang itu untuk untuk kepentingan-kepentingan kita, tanpa peduli orang lain kita rugikan.

Tapi jangan pernah menangis, kalau ada orang lain tak percaya sama kita. Ketidakpercayaan itu, sekali lagi mungkin benih dari kepercayaan yang tumbuh kemudian. Tak satupun kita, yang selalu dipercaya oleh semua orang. Selalu saja ada, entah satu atau dua orang yang tidak pernah percaya dengan niat baik kita. Jangankan kita, Muhammad sekalipun banyak yang tidak memercayainya.

19 September 2006

FRIDA YANG PORNO

…..Peluhku berjatuhan,
Menikmati sentuhan,
Perasaan yang teramat dalam,
Rindu ini t’lah sekian lama terpendam…..

Aku tak hafal lagu Rindu, karya Eros Djarot yang dipopulerkan oleh Frida Luciana itu. (tapi kalau tanya mas BEM, pasti dia tahu). Lirik lagu itu, menurut temanku porno. (Halah...hari geneee...baru ngomong tentang porno hehe). Penilaian temanku itu diungkapkannya sepuluhan tahun lalu. Aku tidak tahu, apakah sampai sekarang ia masih berpendapat begitu. Temanku yang sekarang mengajar komunikasi di sebuah PTN di Malang itu memang terkenal alim dan santun. Sebut saja namanya AR. Pria Minang, tapi besar di Surabaya ini bahkan pernah digelari ’penjaga moral’. Dia juga menjadi ikon ’intelektual muda’ di komunitasnya saat itu.

Tentang lagunya Frida itu, tadi sore aku dengar lagi di sebuah radio FM Jakarta. Jujur, aku masih suka banget dengan lagu itu. Suara Frida yang merdu dan penghayatannya yang mendalam menjadikannya enak didengar dan nyaman di kuping. Bedanya, kalau dulu lagu itu populer saat aku kasmaran, sekarang situasinya beda. Aku tidak sedang kasmaran, juga tidak sedang patah hati. Jadi, kalaupun mendengar lagu itu tidak lantas membuat khayalanku melambung. Tapi dulu, wuihhhh....benar-benar membuat perasaan tidak karuan. Makan tidak enak, tidur tidak nyenyak, dudukpun gelisah. Begitulah, sebuah lagu menyindir orang yang sedang kasmaran. Tapi seingatku, di SD ada kisah tentang Wati yang sedang sakit gigi. Narasinya persis begitu, makan tidak enak, tidur tidak nyenyak, dudukpun gelisah. (Sakit gigi memang benar-benar menyiksa, dengar musik keras-keras saja bisa bikin kita uring-uringan hehe...”lebih baik sakit hati, daripada sakit gigi ini...”, kata Hamdan ATT).

Balik ke lagunya Frida, porno tidaknya lagu itu akhirnya berpulang ke imaginasi seseorang. Ini tak ada hubungannya dengan kepribadian, moral, juga agama. Porno, dalam keyakinanku mampu menembus sekat-sekat semua itu. (ceileee...kayak globalisasi aja). Porno bukan monopoli seseorang, etnis, kelompok, atau pemeluk agama tertentu. Porno, sudah pasti ada dalam pikiran setiap orang. Tentu dengan tingkat dan kadar kepornoan yang berbeda-beda. Jangan kamu kira tidak ada ustadz, pendeta, atau biksu yang tidak porno. Apalagi kita-kita ini (kita?...elo kali hehe, sanggah teman-teman kalau aku ngeles mereka). Jangan heran, kalau RUU APP jadi pro dan kontra karena tidak ada batas yang jelas tentang porno itu sendiri. Porno kadang dicampuradukkan dengan pornografi. Ah, biarlah para ahli bahasa yang mendefinisikan secara benar, apa itu porno dan pornografi.

Kalau boleh aku sederhanakan---sekali lagi, aku sederhanakan---akar pro dan kontra tentang porno dan pornografi itu karena kamus umum bahasa Indonesia (KUBI) tidak mencantumkan kedua kata itu. Wajar, jika pendukung dan penolak RUU APP bersikukuh dengan argumen masing-masing, yang sudah pasti kental unsur subyektifnya. Setelah aku bolak-balik, KUBI karya W.J.S. Poerwadarminta yang kesohor itu ternyata memang tidak mencantumkan kata porno maupun pornografi. Yang ada kata saru, kosa kata Jawa yang berarti ”perkataan dan perbuatan tidak senonoh”. Tidak senonoh, mungkin berkerabat erat dengan pencabulan dan kata sejenisnya. Nah, mungkin ceritanya akan lain andai saja Pansus DPR yang merumuskan RUU APP itu menggantinya dengan RUU AntiSaru. Pilihan kedua ini jelas ada rujukannya, KUBI yang banyak dijadikan acuan para ahli bahasa.

Masalahnya, undang-undang tidak dibuat hanya untuk orang Jawa. Tetapi berlaku untuk setiap warga negara Indonesia. Jadi kalau porno diganti saru, bisa jadi orang Riau (Melayu) akan protes. Pun demikian dengan orang Bali, Bugis, Dayak, Sunda, Madura, dan ratusan suku lainnya di republik ini. Masalah kedua akan muncul, karena saru dalam terminologi Jawa tidak selalu berkonotasi dengan seks atau sejenisnya. Saat kamu makan sambil berjalan, atau makan di depan pintu, orang Jawa bilang, “ora ilok”. (orang Sunda bilangnya, pamali). Memang saru dan ora ilok tidak sama persis artinya, tapi keduanya berjalin berkelindan. Hmmmm....maksud hati ingin menyederhanakan, ternyata makin ruwet dan tidak jelas. Biarlah, toh dalam ketidakjelasan itu ada kejelasannya. ”jelas, tidak jelasnya”, gurau orang-orang.

Terlepas dari pro dan kontra itu, menurutku lagunya Frida tetap tidak porno (menurut Elo-Elo?). Lagu itu tetap memiliki arti tersendiri buatku. (pelan sih tapi kan daleeem....bunyi iklan kecantikan hehe). Mengingatkanku pada seseorang di kota S, yang sekarang sudah dikaruniai buah hati. Frida Luciana, seperti juga mba Iga Mawarni, lagu-lagunya sangat aku sukai. Ibarat aktor film, karakternya kuat. Hanya kebetulan, suara merdu keduanya aku dengarkan sore tadi.

Saat kudengar lagu itu, aku tidak sedang membayangkan sesuatu yang porno. Hanya nglaras ati, kata Wong Solo. Namanya juga nglaras ati, terhanyut tidaknya kita tergantung suasana kebatinan kita. Kalau suasana kebatinan kita tidak porno, aura yang terpancar tentu bukan porno, juga bukan kemesuman. Tetapi aura penikmat puncak karya seni (opo iki maksude? Mbuh aku yo ora mudheng). Sedih, tapi wajah berbinar. Mungkin ngga ya? Mungkin saja. Apa sih yang tidak mungkin di dunia ini. Tentu kalau Tuhan mengijinkan.

13 September, 2006