Aku panggil saja namanya AAN. Umurnya 10 tahun lebih muda dariku. Habis lebaran Haji nanti, AAN akan menikahi gadis Peurlak, Aceh Timur. Meski awalnya orang tua gadis tidak setuju, AAN berhasil meminag si gadis dengan mahar emas 5 mayam. Sebuah mahar yang 'murah' untuk ukuran orang Aceh. Umumnya, mahar untuk meminang gadis Aceh, seperti yang pernah aku dengar bisa 10-15 mayam emas. Nilai mahar ini sangat ditentukan oleh status sosial keluarga si gadis. Semakin kaya, dan semakin tinggi pendidikannya, makin mahal lah mahar untuk meminang.
"Mahar itu, Bang, sebagai ganti atas biaya yang sudah dikeluarkan orang tuanya untuk membesarkan dan menyekolahkannya," kata AAN menerangkan mengapa ada ketentuan mahar di Aceh. Katanya lagi, untuk menyekolahkan anak hingga meraih titel sarjana, orang tua kadang harus menjual sawah, sapi, kerbau dan harta benda lainnya sehingga uang mahar itu bisa dianggap biaya pengganti. meski jika dinilai besarnya tidak sepadan dengan biaya yang sudah dikeluarkan untuk membesarkan dan menyekolahkan si gadis.
Menariknya, menurut AAN, justru yang menentukan mahar tinggi bukan dari keluarga-keluarga berada atau kaya. Golongan ini karena merasa sudah berkecukupan secara materi, maka tidak membutuhkan lagi harta dari pihak mempelai pria. Justru dari golongan menengah ke bawah lah yang biasa pasang mahar tinggi untuk menikahkan gadisnya.
Aku tidak tahu persis kesahihan cerita AAN, tetapi menurut teman kuliahku, mahar tinggi sebenarnya tak lebih sebagai tanda pengikat jadi. Soalnya, bila pihak mempelai gadis menentukan mahar tinggi, mereka biasanya menyediakan rumah atau sebidang tanah untuk diserahkan dan menjadi hak kedua pasangan yang akan menikah.
*****
AAN baru aku kenal hari itu. Dia aku minta untuk mengantarku ke Aceh Besar dan beberapa tempat yang harus aku datangi hari itu. Saat ini AAN hidup sebatang kara. Seluruh keluarganya menjadi korban keganasan tsunami, 26 Desember 2004. Delapan anggota keluarganya meninggal. Bapak, mamak, adik-adik dan kakaknya lenyap ditelan tsunami. Satu-satunya jenasah yang berhasil ditemukan adalah jenasah mamaknya.
Masih ada lagi keluarga AAN yang menjadi korban tsunami. Mereka adalah keluarga Bapaknya dari Sumatera Barat yang waktu kejadian sedang bersilaturahmi ke Banda Aceh. jumlahnya 6 (enam) orang. Total, AAN kehilangan 14 anggota keluarga.
Dikisahkan AAN, tiga hari sebelum tsunami, tepatnya hari Kamis, 23 Desember 2004 keluarganya datang jauh-jauh dari Padang untuk silaturahmi. Kebetulan esoknya salah seorang kakak AAN akan mengadakan selamatan dalam rangka ritual "Turun Tanah". Dalam
ritual "Turun Tanah" ini, seorang bayi yang sudah berusia sekian bulan--aku lupa berapa bulan persisnya--kaki si bayi akan dijejakkan ke tanah. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana persisnya, tapi mungkin tidak jauh berbeda dengan tradisi yang masih dilakukan oleh sebagian masyarakat Jawa itu.
Namun ternyata takdir telah mengantar 6 orang keluarga AAN itu ikut pergi bersama bapak, mamak, kakak, adik dan keponakannya. benar-benar memilukan. Saat mengisahkan ini mata AAN berkaca-kaca dan nafasnya sedikit tertahan. "Sedih sekali saya bang, terutama kalau ingat mamak yang mayatnya saya temukan sendiri diantara tumpukan mayat lainnya," kata AAN menerawang.
*****
Keajaibanlah yang bisa menyelamatkan AAN. Hari itu AAN dan seluruh keluarganya ikut tersapu tsunami. Saat kejadian AAN baru saja mengantar ibu-ibu Persit--para istri TNI--ikut gerak jalan di lapangan Blang Padang. Karena gempa begitu besar, AAN khawatir terhadap keluarganya dan diputuskannya minta izin untuk pulang ke rumah di kawasan pantai Ule Leu. sekitar 3 kilometer dari Blangpadang.
Sampai di rumah AAN melihat mamaknya berlumuran darah karena tertimpa reruntuhan benda saat gempa terjadi. Bapaknya terkena pecahan kaca akuarium yang dijadikan pegangan sewaktu gempa mengguncang. AAN kemudian berhasil mengeluarkan mamak, bapak dan adik-adiknya menjauh dari rumah. Bersama tetangga yang lain, AAN kemudian mengambil posisi tepat di atas jembatan Ule leu yang masih kokoh bertahan sampai sekarang. Tidak lama kemudian, orang-orang berteriak "Air Naik, air naik !". AAN dan orang-orang di sekitar rumahnya tidak pernah menyadari bahaya 'air naik' itu. AAN hanya berpikir, air naik itu tak lebih dari gelombang pasang yang datang seperti biasa saat angin barat tiba. Namun AAN mulai panik bila menyaksikan orang berlarian tak karuan. Kereta-kereta--sebutan sepeda motor di Aceh--tancap gas. Pun Truk Reo, truk berat pengangkut pasukan TNI menerjang apa saja yang ada di depannya, termasuk orang-orang dan sesama anggota TNI yang berusaha menyelamatkan diri.
AAN panik. Dilihatnya ke arah Selatan, langit gelap gulita dan bukit di seberang Ule Leu sudah tak tampak. AAN mengambil langkah seribu. Namun, blazzzz.........gelombang air bah setinggi pohon kelapa menghantam tubuh AAN yang kerempeng itu. AAN tersapu gelombang setinggi pohon kelapa dan kecepatannya setara dengan kecepatan pesawat itu. Tubuhnya tanpa ampun dihantam benda-benda yang ikut dibawa gelombang ganas itu. Antara sadar dan tidak tangan AAN berhasil meraih tiang listrik. AAN mampu bertahan untuk beberapa saat. Apa daya tenaganya tak kuat menahan hempasan gelombang itu. Dan wuzzzzzzzzzz..terlepaslah pegangan itu. Tapi lagi-lagi ia diselamatkan oleh daun pintu. Di sebuah rumah yang dia tak tahu persis di mana lokasinya, tangannya berpegangan kuat-kuat pada daun pintu itu. Hanya kepalanya yang tersebul ke permukaan, sebatas leher. Sementara tubuhnya dihantam tak kenal ampun oleh kayu, puing-puing rumah dan benda keras lainnya. Benar-benar sakit tak terperikan. Kepalanya juga sempat dihamtam benda keras yang berakibat pendarahan. Lama-lama tenaga AAN habis. Dia mulai lemas dan matanya mulai berkunang-kunang. Beruntung, gelombang air bah itu mulai surut. AAN mulai sedikit lega. Berakhir lah penderitaan itu, pikirnya. Namun tanpa disangka-sangka, gelombang kedua datang menyusul dengan kekuatan dan kecepatan lebih dahsyat. Dan sekali lagi, blazzzzzz.....semuanya menjadi gelap.
AAN baru sadar setelah berada di pelataran RSU Zainal Abidin. Kata orang yang menyelamatkannya, dirinya ditemukan tak sadar diri di daerah Ujung Bateh. Sekitar 12 kilometer arah Timur Ule Leu. Benar-benar sebuah keajaiaban, tersapu gelombang sejauh 12 kilometer tetapi masih selamat.
*****
Seminggu setelah kejadian, AAN perlahan-lahan mulai pulih. Lalu nalurinya membawa dia untuk mencari anggota keluarganya yang lain. Dan hanya mamaknya yang berhasil ia temukan mayatnya. Hari-hari berikutnya, AAN ikut bersama relawan lain mengevakuasi mayat-mayat korban tsunami.
lalu sebulan kemudian, AAN memutuskan untuk pergi ke Sumbar. Memberi khabar dan menengok keluarga Bapaknya yang sebagian turut menjadi korban di Ule leu. Dari Banda Aceh ke Medan, AAN berhasil mendapat tumpangan mobil. Tapi dari Medan ke Padang, semua angkutan dan bus penuh. Tak satupun kendaraan yang distopnya mau berhenti. AAN baru mendapat tumpangan bus Kurnia setelah berjalan kaki hampir sehari penuh. Itupun setelah bersusah payah ia menjelaskan sebagai korban tsunami dan bersenjata 'bahasa Aceh'. Di Padang AAN masih harus berjuang untuk mencari tumpangan ke kampung bapaknya. Dari mulut ke mulut, orang di terminal tahu kalau ia korban tsunami. Lalu orang-orang mulai menggalang dana kemanusiaan. Karena AAN mengaku sebagai keluarga Minang di Aceh, maka simpati mengalir deras. Entah berapa juta yang terkumpul saat itu. Yang pasti akhirnya AAN berhasil tiba di kampung bapaknya yang disambut dengan isak tangis.
Bantuan masih terus mengalir, pemerintah daerah setempat mengundang AAN untuk menyampaikan testimoni tentang apa yang dia alami. Kembali, uang terkumpul puluhan juta rupiah. "Saya lihat sendiri bang, uang yang terkumpul malam itu diangkut dengan dua karung oleh panitia dari pemerintah daerah," terang AAN. Katanya lagi, uang yang terkumpul semua dan dia terima selama di padang tidak kurang dari 50 juta rupiah. Namun uang itu sudah habis, dibagi untuk keluarga bapaknya yang juga kehilangan kerabat dan dipakai untuk selamatan. Saat balik lagi ke banda Aceh, AAN hanya mengantongi uang 1 juta rupiah.
Setibanya di Aceh, AAN memulai kehidupan baru. Mulai jadi sopir di BRR, CARE, konsultan, jualan voucher, dan terakhir menjadi sopir di sebuah rental mobil yang mengantarku hari itu. Sayangnya, sampai hari ini AAN belum memperoleh rumah bantuan korban tsunami, meski jelas-jelas ia kehilangan 14 anggota keluarganya dan ia satu-satunya yang masih hidup. Kata orang BRR, saat ini yang lebih diutamakan adalah korban tsunami yang sudah berkeluarga. Untuk yang masih lajang sementara bisa tinggal di barak-barak pengungsian. Sekarang AAN tak punya tempat tinggal tetap. Tidur di mana saja dia mau.
Bersabarlah AAN, semoga setelah hari bahagiamu nanti, hidupmu akan berubah dan dibukakan segala kemudahan untukmu. Amiiiiiiiiiiiiin...
Walau dosa tak terbilang, tapi pintu maaf dan ampunan selalu dibukakan untuk hamba-Nya yang berserah diri. Walau kebaikan bertumpuk gunung, apalah artinya tanpa beroleh ridlo-Nya
Showing posts with label Serambi Mekah. Show all posts
Showing posts with label Serambi Mekah. Show all posts
Sunday, December 9
Thursday, August 16
Farid Hussein dan Kisah Damai di Aceh
Farid itu orang hebat. Pejabat eselon I Depkes ini adalah salah satu aktor penggagas perdamaian di Aceh. Bersama dengan Sofyan Djalil, Hamid Awaluddin dan lainnya Farid menjadi juru runding pemerintah RI dengan GAM. Perawakannya gendut, tapi "mobilitasnya lebih gesit dari aku", kata Shalim Shahab yang hari itu menemani Pak Farid ke Aceh. Masih kata Shalim, Farid sangat dekat dengan RI-2. Bahkan semasa mahasiswa mereka sering belajar bareng". Lika-liku Farid Hussein bernegosiasi dengan para elit GAM dibukukan oleh Salim Shahab dalam "To See The Unseen (Kisah di balik Damai di Aceh)"
Salim, pria Arab asal Madura ini hampir dua tahun tidak ketemu denganku. Pertemuan terakhir di kawinan ponakan Slamet Effendy Yusuf, pertengahan 2005 di Kebumen. Tidak ada yang berubah pada Salim. Masih hangat seperti dulu, khas Arab kebanyakan yang selalu ramah pada orang. Kalau ada yang berubah, mungkin cuma kepalanya yang bakin botak dan badannya makin subur. Untungnya Salim tinggi, jadi kegendutannya tidak terlalu nampak.
Hari itu, begitu acara kelar, Salim aku temani memutari Aceh. Beruntung, Salim dapat tiket sore hari, jadi masih cukup waktu untuk sekedar naik becak atau mencicipi makanan khas Aceh. Maka makanlah kami berdua, bukannya nyari makanan khas Aceh, tapi kami malah berbelok ke Es Teller dan Cafe PP. Aku berterus terang kalau sebenarnya lidahku tidak cocok dengan masakan Aceh. Makanya dikedua tempat itu makanan yang kami santap ya makanan ala Jakarta.
Selama makan, seperti biasa cerita-cerita nostalgia muncul. Tentang ponakannya Pak Slametlah, teman angkatan yang minta dicarikan jodoh, dan orang-orang yang pernah "berjuang" bareng belajar jurnalistik dulu. Dan dari semua pembicaraan, urusan bisnislah yang menggairahkan. "Nanti kalau aku ke Jakarta kita obrolin lagi", janjiku ke Salim.
Selesai makan, kami mampir ke Baiturrahman sebelum akhirnya balik lagi ke Hotel. Sekitar setengah lima, mobil jemputan datang. Salim balik lagi ke Jakarta. Sampai ketemu lagi Pak !
Salim, pria Arab asal Madura ini hampir dua tahun tidak ketemu denganku. Pertemuan terakhir di kawinan ponakan Slamet Effendy Yusuf, pertengahan 2005 di Kebumen. Tidak ada yang berubah pada Salim. Masih hangat seperti dulu, khas Arab kebanyakan yang selalu ramah pada orang. Kalau ada yang berubah, mungkin cuma kepalanya yang bakin botak dan badannya makin subur. Untungnya Salim tinggi, jadi kegendutannya tidak terlalu nampak.
Hari itu, begitu acara kelar, Salim aku temani memutari Aceh. Beruntung, Salim dapat tiket sore hari, jadi masih cukup waktu untuk sekedar naik becak atau mencicipi makanan khas Aceh. Maka makanlah kami berdua, bukannya nyari makanan khas Aceh, tapi kami malah berbelok ke Es Teller dan Cafe PP. Aku berterus terang kalau sebenarnya lidahku tidak cocok dengan masakan Aceh. Makanya dikedua tempat itu makanan yang kami santap ya makanan ala Jakarta.
Selama makan, seperti biasa cerita-cerita nostalgia muncul. Tentang ponakannya Pak Slametlah, teman angkatan yang minta dicarikan jodoh, dan orang-orang yang pernah "berjuang" bareng belajar jurnalistik dulu. Dan dari semua pembicaraan, urusan bisnislah yang menggairahkan. "Nanti kalau aku ke Jakarta kita obrolin lagi", janjiku ke Salim.
Selesai makan, kami mampir ke Baiturrahman sebelum akhirnya balik lagi ke Hotel. Sekitar setengah lima, mobil jemputan datang. Salim balik lagi ke Jakarta. Sampai ketemu lagi Pak !
Kopi Aceh dan Budaya Malas
Para maniac kopi pasti tak asing dengan Kopi Aceh. Aroma dan rasa kopi ini berbeda dengan Kopi Lampung, Kopi Toraja, ataupun kopi made in Bakoel Coffee. Apalagi dibandingkan kopi keluaran waralaba dari negeri Paman Sam itu, jauhhhhh banget.
Bagi yang biasa menikmati kopi tubruk, jangan harap bisa menemukan di Aceh. Tak satupun kedai kopi yang kutemui melayani kopi tubruk. Tidak seperti kopi Jawa Timur-an yang selalu diseduh dengan menyertakan butiran-butiran seukuran upil, kopi Aceh praktis tidak ada butiran-butiran upil itu. Kopinya digiling halus, sehalus tepung. Bubukan kopi itu kemudian dimasukkan dalam air mendidih, tanpa gula. Tapi ada juga yang langsung memasukkan gula ke dalamnya. Bila ada yang pesan, tukang kedai kopi akan menyiduk seperlunya untuk kemudian disaring dengan kain kassa.Uniknya, saat menyaring kopi hampir pasti si tukang kedai kopi mengangkat tinggi-tinggi. Entah apa maksudnya, tapi kebanyakan percaya semakin tinggi mengangkat penyaring dari gelas makin nikmat kopinya. Hasil kopi saringan ini kemudian menimbulkan buih, coklat keputihan. Makin banyak buih, dipercaya makin nikmatlah kopi itu. Orang Aceh menyebutnya dengan "Kopi Tarik".
Hampir di setiap sudut di Banda Aceh, selalu ada kedai kopi. Dan kedai kopi paling kesohor adalah kedai kopi "SOLONG". Puluhan bahkan ratusan orang mendatangi kopi ini setiap hari, dari pagi hingga malam. Entah berapa juta omzet yang diperoleh setiap hari, tapi ada yang bilang lebih dari 10 juta perharinya. Saking kesohornya kedai kopi ini, semua orang dari berbagai strata sosial bisa dipastikan tahu di mana letak kedai kopi Solong.
Bagi orang Aceh yang kebetulan minim fasilitas hiburan, kedai Solong menjadi ruang publik yang mempertemukan orang dari berbagai strata dan beragam kepentingan. Politisi, pejabat pemerintah, aktifis, pengusaha, para ekspatriat atau mahasiswa sering menjadikan SOlong sebagai tempat kencan. Seorang Irwandi pun setelah menjabat gubernur juga masih menyempatkan diri singgah di kedai ini, menjamu para tamu, termasuk calon-calon investor yang ingin berinvestasi di Aceh.
Pasca tsunami, orang luar yang datang ke Aceh selalu menyempatkan diri ngopi di Solong. Hanya dengan 1500 perak, orang bisa menikmati kopi yang benar-benar Aceh. Bagi yang ingin bawa oleh-oleh, kedai Solong juga menyediaan kopi bubuk, 12.500 perak seperempat kilonya.
*****
Lalu apa hubungannya kebiasaan ngopi orang Aceh dengan budaya malas? Sebenarnya keduanya tidak berhubungan sama sekali. Stigma 'budaya malas' itu cuma dihubung-hubungkan saja. Otak atik mathuk. Faktanya, orang memang bisa menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk menenggak secangkir kopi. Mereka-mereka ini dicap pemalas, atau pengangguran. Parahnya lagi, di saat jam-jam sibuk, atau pada jam produktif (8.00-13.00 WIB), sering dijumpai orang berseragam (PNS), nyangkruk di warung kopi. Ini makin melegitimasi betapa malasnya orang Aceh.
Orang yang terlalu cepat berkesimpulan bahwa orang Aceh malas tampaknya mengabaikan latar sosial-politiknya. Selama puluhan tahun Aceh dilanda konflik. Boleh jadi, ketakutan dan trauma terhadap konflik itu membuat orang enggan beraktifitas. Bukan hanya ruang gerak yang terbatas, dimana di masa lalu nyaris tidak ada tempat yang benar-benar aman, dengan nongkrong di kedai kopi mereka berharap dapat info-info paling gress.
Soal PNS yang nongkrong di kedai kopi, sebenarnya ini tidak ada bedanya dengan PNS-PNS di tempat lain. Bedanya, kalau di Aceh para PNS menghabiskan waktunya di kedai kopi, di tempat lain para PNS ini melakukannya dengan ngegame, main pinpong, main kartu, atau membolak-balik koran. Dus, PNS di lingkungan Pemda ya begitu semua.
Untunglah warga Aceh punya gubernur yang gerah kalau melihat bawahannya ongkang-ongkang di kedai kopi. Dibandingkan enam bulan lalu, kebiasaan para PNS yang nongkrong di kedai kopi sudah jauh berkurang. Irwandi memang galak, dan menyatakan "perang" terhadap aparat pemda yang nggosip ngalor-ngidul di kedai kopi. Angkat topi untuk Irwandi, moga-moga kondisi ini bisa berlanjut untuk seterusnya, meski kelak berganti gubernur.
Kebiasaan ngopi, sebenarnya tidak terkait dengan budaya malas. Tradisi Ngopi, sebenarnya lebih dijadikan sebagai media untuk bertukar ide dan memperoleh info-info paling hangat. Bagi orang Jawa, ngopi di siang hari, apalagi berjam-jam adalah tidak lazim. Kebiasaan ngopi di Jawa adalah malam hari. fungsinya juga sama, sebagai media bertukar ide dan berbagi berita. Tapi orang Aceh bukan Jawa gitu lohhhhh........ahh peduli amat dengan "kemalasan".
Bagi yang biasa menikmati kopi tubruk, jangan harap bisa menemukan di Aceh. Tak satupun kedai kopi yang kutemui melayani kopi tubruk. Tidak seperti kopi Jawa Timur-an yang selalu diseduh dengan menyertakan butiran-butiran seukuran upil, kopi Aceh praktis tidak ada butiran-butiran upil itu. Kopinya digiling halus, sehalus tepung. Bubukan kopi itu kemudian dimasukkan dalam air mendidih, tanpa gula. Tapi ada juga yang langsung memasukkan gula ke dalamnya. Bila ada yang pesan, tukang kedai kopi akan menyiduk seperlunya untuk kemudian disaring dengan kain kassa.Uniknya, saat menyaring kopi hampir pasti si tukang kedai kopi mengangkat tinggi-tinggi. Entah apa maksudnya, tapi kebanyakan percaya semakin tinggi mengangkat penyaring dari gelas makin nikmat kopinya. Hasil kopi saringan ini kemudian menimbulkan buih, coklat keputihan. Makin banyak buih, dipercaya makin nikmatlah kopi itu. Orang Aceh menyebutnya dengan "Kopi Tarik".
Hampir di setiap sudut di Banda Aceh, selalu ada kedai kopi. Dan kedai kopi paling kesohor adalah kedai kopi "SOLONG". Puluhan bahkan ratusan orang mendatangi kopi ini setiap hari, dari pagi hingga malam. Entah berapa juta omzet yang diperoleh setiap hari, tapi ada yang bilang lebih dari 10 juta perharinya. Saking kesohornya kedai kopi ini, semua orang dari berbagai strata sosial bisa dipastikan tahu di mana letak kedai kopi Solong.
Bagi orang Aceh yang kebetulan minim fasilitas hiburan, kedai Solong menjadi ruang publik yang mempertemukan orang dari berbagai strata dan beragam kepentingan. Politisi, pejabat pemerintah, aktifis, pengusaha, para ekspatriat atau mahasiswa sering menjadikan SOlong sebagai tempat kencan. Seorang Irwandi pun setelah menjabat gubernur juga masih menyempatkan diri singgah di kedai ini, menjamu para tamu, termasuk calon-calon investor yang ingin berinvestasi di Aceh.
Pasca tsunami, orang luar yang datang ke Aceh selalu menyempatkan diri ngopi di Solong. Hanya dengan 1500 perak, orang bisa menikmati kopi yang benar-benar Aceh. Bagi yang ingin bawa oleh-oleh, kedai Solong juga menyediaan kopi bubuk, 12.500 perak seperempat kilonya.
*****
Lalu apa hubungannya kebiasaan ngopi orang Aceh dengan budaya malas? Sebenarnya keduanya tidak berhubungan sama sekali. Stigma 'budaya malas' itu cuma dihubung-hubungkan saja. Otak atik mathuk. Faktanya, orang memang bisa menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk menenggak secangkir kopi. Mereka-mereka ini dicap pemalas, atau pengangguran. Parahnya lagi, di saat jam-jam sibuk, atau pada jam produktif (8.00-13.00 WIB), sering dijumpai orang berseragam (PNS), nyangkruk di warung kopi. Ini makin melegitimasi betapa malasnya orang Aceh.
Orang yang terlalu cepat berkesimpulan bahwa orang Aceh malas tampaknya mengabaikan latar sosial-politiknya. Selama puluhan tahun Aceh dilanda konflik. Boleh jadi, ketakutan dan trauma terhadap konflik itu membuat orang enggan beraktifitas. Bukan hanya ruang gerak yang terbatas, dimana di masa lalu nyaris tidak ada tempat yang benar-benar aman, dengan nongkrong di kedai kopi mereka berharap dapat info-info paling gress.
Soal PNS yang nongkrong di kedai kopi, sebenarnya ini tidak ada bedanya dengan PNS-PNS di tempat lain. Bedanya, kalau di Aceh para PNS menghabiskan waktunya di kedai kopi, di tempat lain para PNS ini melakukannya dengan ngegame, main pinpong, main kartu, atau membolak-balik koran. Dus, PNS di lingkungan Pemda ya begitu semua.
Untunglah warga Aceh punya gubernur yang gerah kalau melihat bawahannya ongkang-ongkang di kedai kopi. Dibandingkan enam bulan lalu, kebiasaan para PNS yang nongkrong di kedai kopi sudah jauh berkurang. Irwandi memang galak, dan menyatakan "perang" terhadap aparat pemda yang nggosip ngalor-ngidul di kedai kopi. Angkat topi untuk Irwandi, moga-moga kondisi ini bisa berlanjut untuk seterusnya, meski kelak berganti gubernur.
Kebiasaan ngopi, sebenarnya tidak terkait dengan budaya malas. Tradisi Ngopi, sebenarnya lebih dijadikan sebagai media untuk bertukar ide dan memperoleh info-info paling hangat. Bagi orang Jawa, ngopi di siang hari, apalagi berjam-jam adalah tidak lazim. Kebiasaan ngopi di Jawa adalah malam hari. fungsinya juga sama, sebagai media bertukar ide dan berbagi berita. Tapi orang Aceh bukan Jawa gitu lohhhhh........ahh peduli amat dengan "kemalasan".
Monday, April 9
Terung Belanda

Mana yang benar, terung Belanda atau Terong Belanda? Ah, itu tak penting. keduanya toh merujuk pada buah yang sama. Terong Belanda, buah pir, markisa, strawberry adalah beberapa jenis buah yang baru aku kenal dan aku rasakan setelah besar. Di kampungku sana, aku tak pernah mendegar dan melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana wujud, dan warna buah itu, juga belum pernah merasakannya.
Khusus terong Belanda, aku baru melihat wujudnya secara langsung belum lama ini. Adalah Asri, Mr. P, Alvin dan Masda yang hari itu menghantarkanku untuk "mengenal lebih dekat" si empunya nama, terong Belanda. Praktis sedari kecil tak pernah kudengar nama buah ini. Baru setelah kuliah aku bisa merasakan terong Belanda yang sudah diblender menjadi juice (kok bisa dibaca jussss ya?). Di Kafe Pante Perak, tidak jauh dari Masjid Baiturrahman, NAD, sore itu aku memesan juice terong Belanda. Rasa dahaga dan capekku seperti lenyap setelah menyeruput juice terong belanda yang konon buahnya banyak dihasilkan di Brastagi-Medan itu.
Sejauh ini aku memang baru bisa mendengar dan merasakan Terong Belanda. Tetapi melihat wujudnya secara fisik, kali pertama ya di Kafe Pante Perak itu. Senangnya, ternyata aku bukan satu-satunya orang yang belum pernah melihat bentuk fisik terong Belanda. Kalaupun malu, masih ada temannya lah. Aku lupa, siapa yang mengusulkan agar aku minta terong Belanda yang masih utuh dari pelayan kafe itu. Itu terjadi karena aku berterus terang belum tahu seperti apa gerangan buah ini. Kalau tidak Asri ya Alvin yang menggerakkan kakiku sore itu untuk minta sebuah terong Belanda dari pelayan kafe. Setelah "merayu" si pelayan, akhirnya kudapatkanlah itu buah. Tidak terlalu exiting memang, tetapi rasanya puas karena rasa penasaranku selama ini terbayar sudah.
Secara fisik, terong belanda tidak terlalu besar. Kira-kira hanya sepertiga atau seperempat kepalan tanganku. Aku tak beroleh jawaban, apakah buah di depanku ini ukurannya berkategori kecil, sedang, standar atau besar. Harap mafhum, aku cuma mendapatkan sampel satu-satunya. Tidak ada buah lain yang jadi pembanding untuk ukurannya. Mungkin suatu saat aku harus minta lagi ke pelayan kafe, atau kalau perlu main ke Brastagi, biar bisa melihat ukuran rata-rata buah ini.
Jika terong ini satu keluarga dengan jenis terong sayur yang banyak dikenal orang selama ini, pasti di dalam banyak terdapat bijinya. Warnanya sedikit keungu-unguan, berpadu dengan hijau muda dan sedikit coklat. Tetapi warna ungu mendominasi kulit buah ini. Menurut Alvin, katanya ada juga yang berwarna orange tomat (terbayangkan?). Dan benar, setelah aku telusuri ke sana kemari, memang ada jenis terong Belanda warna orange tomat ini. Bentuknya agak lonjong, entahlah kalau ada yang bulat. Kulitnya sedikit lebih kasar dibandingkan dengan terong sayur. Sepertinya juga sedikit lebih alot. Aku tidak tahu apakah jenis terong Belanda lebih tahan layu daripada terong sayur. Dugaanku seperti itu. Paling tidak, ketika kupijit terong ini agak keras. Lebih keras dibandingkan terong sayur kebanyakan.
Dalam waktu singkat, terong yang tadi kupegang berpindah tangan diantara kami berempat. Rupanya semua sama-sama penasarannya, dan sepertinya sama-sama tak punya banyak referensi tentang buah ini. Kecuali rasanya yang sering dicicipi dalam bentuk juice itu. Manis, sedikit sekali asamnya dan memiliki aroma yang khas. Tentu saja khas Terong Belanda. Sedikit "langu" aromanya kata orang Jawa. Bagaimanapun, inilah salah satu juice favoritku selain jambu dan alpukat.
Andaikan Terong ini memiliki perasaan, pasti dia merasa bangga. Betapa tidak, sore itu buah ini menjadi "rising star" diantara kami berempat. Si Terong Belanda menjadi topik hangat obrolan. Bahkan Aku dan Asri bergantian memotret sang bintang ini. Iseng-iseng kutaruh buah ini di atas Hp-ku. Jepret..., jadilah gambarnya. "Not too bad", komentar Asri. "Ini akan jadi satu bahan ngerumpi di blog", kataku menimpali. Lalu giliran Asri yang menjepretnya. Dengan sedikit sentuhan, Asri mencoba meletakkan si terong di atas selembar tisu. "Jepret,..jadilah. Hasilnya sedikit lebih baik. Maklum, Asri yang punya kamera, dan hasil bidikan-bidikannya yang ditunjukkan kepadaku, "Mengagumkan!", meski cuma bermodal kamera saku digital, resolusi 6 megapixel.
Sekarang, sang bintang aku pasang penampilannya di halaman ini. Bagi yang belum pernah melihatnya, biar terjawab rasa kepenasarannya.
9 April 2007
Friday, April 6
Khalwat....yuuuuuk!
Kalau diranking, Top news media-media di Banda Aceh adalah ‘khalwat’. Nyaris setiap hari, ada saja liputan tentang khalwat ini. Ada anggota dewan ketangkap basah ngencani janda, ada pak keuchik jadi korban tuduhan khalwat, ada dua sejoli ketangkep karena pacaran kemalaman, dan seabrek kasus lainnya. Dari semua itu, pelaku khalwat didominasi mahasiswa-mahasiswi. Tidak aneh, namanya juga mahasiswa, gairah asmaranya memang lagi tinggi-tingginya.
Tidak lama setelah menjejakkan kaki di sini, seorang teman mengingatkan, “cepat cari istri, jangan sampai digerebek WH gara-gara khalwat”. Buatku itu lelucon, sekaligus ungkapan peduli temanku itu. Tadinya aku tidak terlalu berpikir jauh, seperti apa fenomena khalwat ini di Banda Aceh. Rupanya, dari hari ke hari, masalah ini memang banyak mendapat sorotan media.
Khalwat, terjemahan bebasnya : mesra-mesraan berdua. (pasti ingat kan nasehat tua ini, jangan berduaan di tempat sepi, nanti hadir orang ketiga, Kamu !..oups..maksudnya setan :-). Fenomena ini sebenarnya bukan hal baru, bukan hanya di Aceh, tapi juga di tempat lain. Fenomena ini menjadi menarik di Aceh karena tidak lepas dari keberadaan WH, wilayatul hisap atau polisi syariah. Satu-satunya aparat penegak hukum yang cuma bisa ditemui di Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). WH inilah yang hari ini menjadi ujung tombak penegakan syariat Islam di Aceh. Yang menarik, dari banyak kasus yang ditangani, khalwat tampaknya menjadi fenomena sosial yang paling banyak mendapat perhatian WH. Belum jelas alasannya, yang pasti menangani kasus khalwat mungkin paling mudah, dan tidak berisiko. Terlebih lagi, masyarakat Aceh tampaknya cukup antusias untuk ‘menjebak’ warganya yang melakukan khalwat. Istilah ‘menjebak’ sebenarnya berangkat dari kenyataan bahwa hampir semua kasus penangkapan pelaku khalwat, sebelumnya masyarakat sudah memata-matai. Saat momentum yang ditunggu tiba, biasanya masyarakat menggerebek oknum pelaku khalwat yang bersangkutan, tentu setelah berkoordinasi dengan WH. Modusnya di setiap kasus hampir seragam, meski ada beberapa perkecualian, misalnya kasus muda-mudi pacaran yang kemaleman di atas.
Sebagian orang menyayangkan kasus-kasus penangkapan khalwat itu. Di suatu kesempatan, seorang khatib Jum’at menyatakan keprihatinannya. Sang khatib menggugat, mengapa masyarakat termasuk WH, baru melakukan tindakan setelah pelaku khalwat berbuat terlalu jauh. “Mengapa tidak jauh hari sebelumnya mereka diingatkan”, gugat pak Khatib Jum’at.
*****
Sejauh ini, aku belum benar-benar bisa memahami, mengapa masih saja terjadi khalwat, meski berkali-kali ada penangkapan, yang beberapa kasus diantaranya pelaku dikenai hukuman cambuk di depan umum. Apakah ini suatu bentuk ’perlawanan’ masyarakat Aceh atas pemberlakuan syariat Islam? Entahlah, yang pasti sampai hari ini peristiwa-demi peristiwa khalwat terus terjadi.
Aku melihat persoalan itu secara sederhana saja. Hubungan asmara antara dua insan berbeda kelamin, adalah hal yang lumrah. Tak ada aturan atau perangkat hukum yang bisa menghilangkan sama sekali kecenderungan itu, di manapun di muka bumi ini. Jangankan di ruang terbuka, di pondok pesantren sekalipun sering ditemui santri yang menjalin hubungan gelap dengan santri lain. Singkatnya, asmara tak bisa dikekang. Oleh aturan pondok, ataupun syariat Islam seperti di NAD ini.
Setuju atau tidak setuju, yang jelas NAD adalah daerah istimewa. Satu-satunya provinsi yang menerapkan syariat Islam. Tidak setuju boleh-boleh saja, tetapi bukan lantas melakukan pelanggaran syariat. Kecuali memang menyegajakan diri, dan siap dengan segala sanksinya.
Jika penerapan syariat Islam ditempatkan sebagai bagian dari proses demokratisasi di NAD, maka siapapun yang bermukim di sini harus menjunjung tinggi ketentuan-ketentuan syariah itu. Karenanya, patut dipertanyakan jika ada sebagian warga Aceh yang melakukan ’teror’ terhadap WH yang sedang menjalankan tugasnya. Seperti diketahui, tempo hari serombongan orang tak dikenal, menyeruduk mobil yang dikendarai WH. Pemicunya, salah seorang teman gerombolan itu baru saja ditangkap WH karena berbuat khalwat.
Tak bisa dibenarkan juga, jika hari ini masih banyak perempuan-perempuan Aceh yang hilir mudik di tempat umum, tanpa mengenakan busana ”Islami”, menutup kepala dan berkain panjang. Kecuali mereka beragama non-muslim. Sah-sah saja berlaku begitu. Tetapi, ketika seorang perempuan diingatkan di tempat ramai karena tidak mengenakan tutup kepala, lalu si perempuan itu bilang : ”Memang kalau tidak pakai kerudung kenapa? Bukan urusanmu!”. Ini sudah keterlaluan. Bukan saja menampar kewibawaan aparat hukum—WH—tetapi juga melecehkan ketentuan syariat Islam yang sudah menjadi keputusan politik bersama komponen masyarakat di Aceh ini. Syariah Islam di NAD, lahir dari sebuah kontrak politik dan kontrak sosial, dan mengikat seluruh komponen masyarakat di wilayah itu. Sudah selayaknya semua menghormati keputusan itu, suka atau tidak suka, setuju atau tidak setuju. Bukankah tidak ada demokrasi yang benar-benar bulat? Demokrasi dimanapun pasti lonjong, artinya tetap ada sebagian komponen masyarakat, bangsa yang tidak setuju dengan kesepakatan mayoritas.
Aku, termasuk yang tidak setuju dengan penerapan syariah Islam, termasuk pendirian negara Islam. Islam yang aku pahami tidak seperti itu. Menjadi relewan, pernyataan khatib Jum’at minggu kemarin (16/03). Sang khatib menyitir pernyataan pembaharu Islam dari Mesir, Muhammad Abduh, katanya :” Aku melihat Islam di negeri yang tidak muslim (Perancis), tapi aku tidak melihat Islam di negeri yang muslim (Mesir). Setuju Pak Khatib ! Islam, seharusnya tercermin dari nilai-nilai dan perilaku yang ditunjukkan oleh masyarakatnya. Bukan oleh jenggot, baju, atau simbol-simbol lainnya yang dinarasikan dalam hukum positif.
Otokritik Pak Khatib Jum’at ini cukup beralasan. Pasalnya, ketika tindakan terhadap pelaku khalwat ‘terlambat’, artinya sampai menunggu pelaku berbuat zina, terkesan seperti melakukan jebakan. Seolah ada kebanggan ketika masyarakat berhasil menangkap basah pelaku yang sedang bermesra-mesraan. Hmmm…inikah mental Melayu, yang baru bertindak setelah kejadian berlaku. Tak pernah berpikir bagaimana antisipasi atau pencegahan dilakukan sebelum kejadian terburuknya benar-benar terjadi. Beda-beda tipis dengan pelaku penanganan bencana di Indonesia. Bencana baru diributkan setelah terjadi peristiwanya. Tapi bagaimana melakukan mitigasi dan kesiapsiagaan, bukan menjadi sesuatu yang dikedepankan.
19 Maret 2007
Tidak lama setelah menjejakkan kaki di sini, seorang teman mengingatkan, “cepat cari istri, jangan sampai digerebek WH gara-gara khalwat”. Buatku itu lelucon, sekaligus ungkapan peduli temanku itu. Tadinya aku tidak terlalu berpikir jauh, seperti apa fenomena khalwat ini di Banda Aceh. Rupanya, dari hari ke hari, masalah ini memang banyak mendapat sorotan media.
Khalwat, terjemahan bebasnya : mesra-mesraan berdua. (pasti ingat kan nasehat tua ini, jangan berduaan di tempat sepi, nanti hadir orang ketiga, Kamu !..oups..maksudnya setan :-). Fenomena ini sebenarnya bukan hal baru, bukan hanya di Aceh, tapi juga di tempat lain. Fenomena ini menjadi menarik di Aceh karena tidak lepas dari keberadaan WH, wilayatul hisap atau polisi syariah. Satu-satunya aparat penegak hukum yang cuma bisa ditemui di Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). WH inilah yang hari ini menjadi ujung tombak penegakan syariat Islam di Aceh. Yang menarik, dari banyak kasus yang ditangani, khalwat tampaknya menjadi fenomena sosial yang paling banyak mendapat perhatian WH. Belum jelas alasannya, yang pasti menangani kasus khalwat mungkin paling mudah, dan tidak berisiko. Terlebih lagi, masyarakat Aceh tampaknya cukup antusias untuk ‘menjebak’ warganya yang melakukan khalwat. Istilah ‘menjebak’ sebenarnya berangkat dari kenyataan bahwa hampir semua kasus penangkapan pelaku khalwat, sebelumnya masyarakat sudah memata-matai. Saat momentum yang ditunggu tiba, biasanya masyarakat menggerebek oknum pelaku khalwat yang bersangkutan, tentu setelah berkoordinasi dengan WH. Modusnya di setiap kasus hampir seragam, meski ada beberapa perkecualian, misalnya kasus muda-mudi pacaran yang kemaleman di atas.
Sebagian orang menyayangkan kasus-kasus penangkapan khalwat itu. Di suatu kesempatan, seorang khatib Jum’at menyatakan keprihatinannya. Sang khatib menggugat, mengapa masyarakat termasuk WH, baru melakukan tindakan setelah pelaku khalwat berbuat terlalu jauh. “Mengapa tidak jauh hari sebelumnya mereka diingatkan”, gugat pak Khatib Jum’at.
*****
Sejauh ini, aku belum benar-benar bisa memahami, mengapa masih saja terjadi khalwat, meski berkali-kali ada penangkapan, yang beberapa kasus diantaranya pelaku dikenai hukuman cambuk di depan umum. Apakah ini suatu bentuk ’perlawanan’ masyarakat Aceh atas pemberlakuan syariat Islam? Entahlah, yang pasti sampai hari ini peristiwa-demi peristiwa khalwat terus terjadi.
Aku melihat persoalan itu secara sederhana saja. Hubungan asmara antara dua insan berbeda kelamin, adalah hal yang lumrah. Tak ada aturan atau perangkat hukum yang bisa menghilangkan sama sekali kecenderungan itu, di manapun di muka bumi ini. Jangankan di ruang terbuka, di pondok pesantren sekalipun sering ditemui santri yang menjalin hubungan gelap dengan santri lain. Singkatnya, asmara tak bisa dikekang. Oleh aturan pondok, ataupun syariat Islam seperti di NAD ini.
Setuju atau tidak setuju, yang jelas NAD adalah daerah istimewa. Satu-satunya provinsi yang menerapkan syariat Islam. Tidak setuju boleh-boleh saja, tetapi bukan lantas melakukan pelanggaran syariat. Kecuali memang menyegajakan diri, dan siap dengan segala sanksinya.
Jika penerapan syariat Islam ditempatkan sebagai bagian dari proses demokratisasi di NAD, maka siapapun yang bermukim di sini harus menjunjung tinggi ketentuan-ketentuan syariah itu. Karenanya, patut dipertanyakan jika ada sebagian warga Aceh yang melakukan ’teror’ terhadap WH yang sedang menjalankan tugasnya. Seperti diketahui, tempo hari serombongan orang tak dikenal, menyeruduk mobil yang dikendarai WH. Pemicunya, salah seorang teman gerombolan itu baru saja ditangkap WH karena berbuat khalwat.
Tak bisa dibenarkan juga, jika hari ini masih banyak perempuan-perempuan Aceh yang hilir mudik di tempat umum, tanpa mengenakan busana ”Islami”, menutup kepala dan berkain panjang. Kecuali mereka beragama non-muslim. Sah-sah saja berlaku begitu. Tetapi, ketika seorang perempuan diingatkan di tempat ramai karena tidak mengenakan tutup kepala, lalu si perempuan itu bilang : ”Memang kalau tidak pakai kerudung kenapa? Bukan urusanmu!”. Ini sudah keterlaluan. Bukan saja menampar kewibawaan aparat hukum—WH—tetapi juga melecehkan ketentuan syariat Islam yang sudah menjadi keputusan politik bersama komponen masyarakat di Aceh ini. Syariah Islam di NAD, lahir dari sebuah kontrak politik dan kontrak sosial, dan mengikat seluruh komponen masyarakat di wilayah itu. Sudah selayaknya semua menghormati keputusan itu, suka atau tidak suka, setuju atau tidak setuju. Bukankah tidak ada demokrasi yang benar-benar bulat? Demokrasi dimanapun pasti lonjong, artinya tetap ada sebagian komponen masyarakat, bangsa yang tidak setuju dengan kesepakatan mayoritas.
Aku, termasuk yang tidak setuju dengan penerapan syariah Islam, termasuk pendirian negara Islam. Islam yang aku pahami tidak seperti itu. Menjadi relewan, pernyataan khatib Jum’at minggu kemarin (16/03). Sang khatib menyitir pernyataan pembaharu Islam dari Mesir, Muhammad Abduh, katanya :” Aku melihat Islam di negeri yang tidak muslim (Perancis), tapi aku tidak melihat Islam di negeri yang muslim (Mesir). Setuju Pak Khatib ! Islam, seharusnya tercermin dari nilai-nilai dan perilaku yang ditunjukkan oleh masyarakatnya. Bukan oleh jenggot, baju, atau simbol-simbol lainnya yang dinarasikan dalam hukum positif.
Otokritik Pak Khatib Jum’at ini cukup beralasan. Pasalnya, ketika tindakan terhadap pelaku khalwat ‘terlambat’, artinya sampai menunggu pelaku berbuat zina, terkesan seperti melakukan jebakan. Seolah ada kebanggan ketika masyarakat berhasil menangkap basah pelaku yang sedang bermesra-mesraan. Hmmm…inikah mental Melayu, yang baru bertindak setelah kejadian berlaku. Tak pernah berpikir bagaimana antisipasi atau pencegahan dilakukan sebelum kejadian terburuknya benar-benar terjadi. Beda-beda tipis dengan pelaku penanganan bencana di Indonesia. Bencana baru diributkan setelah terjadi peristiwanya. Tapi bagaimana melakukan mitigasi dan kesiapsiagaan, bukan menjadi sesuatu yang dikedepankan.
19 Maret 2007
SELAMAT JALAN SOBAT
Ada pertemuan, ada perpisahan. Begitu slogan yang nyaris selalu diulang dalam setiap forum pertemuan sesaat. Tidak semua perpisahan menceriakan. Beberapa pertemuan, kadang harus berakhir dengan urai air mata, bahkan duka yang mendalam.
Begitupun pertemuan yang baru saja kualami. Aku harus berpisah dengan orang yang baru kukenal. Rian, sebut saja begitu. Namanya simple, Rahadian. Sebagian temannya memanggil Rian, ada juga yang memanggil Adi. Banyak hal mengesankan yang kudapat dari pria yang sempat mengeyam kuliah di sebuah PTN di Bogor ini, meski akhirnya tidak selesai.
Pria berwajah tirus, dan berbadan kerempeng ini menemuiku dua minggu setalah aku menginjakkan kaki di tanah seberang ini. Ramah, lugas, cekatan dan berprinsip. Ide-idenya liar, dan sering keluar dari mainstream. Itulah kesan pertama yang kutangkap saat pertemuan awal. Setelah beberapa kali bertatap muka, dan ngopi bareng di warung legendaris di kota ini, kami bersepakat : oke, kita akan kerjasama.
Rencana dan aksipun kita buat. Waktu masih satu minggu lebih untuk menyelenggarakan hajatan itu. Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih. Tuhan belum lagi memberiku kesempatan untuk lebih jauh mengenalnya. Dia keburu dipanggil menghadap-Nya.
Sedih, membayangkan kepergiannya. Apalagi orang orang-orang dekat yang selama ini mengenalnya begitu baik. Tak ada tanda-tanda aneh di malam terakhir pertemuanku dengannya. semua berjalan normal dan biasa. Dia penuh semangat dan bersiap menjalankan tugas yang aku mandatkan kepadanya. sampai akhirnya kudengar khabar yang mengejutkan itu. Sempat tidak percaya dengan kenyataan yang aku hadapi. Tapi, ya itulah takdir Tuhan. Ajalnya memang tak bisa dimajukan atau dimundurkan barang sedetikpun. Manusia tak kuasa di hadapan Sang Khalik. Siapa bisa menegosiasi untuk percepat atau perlambat datangnya ajal. Emangnya lelang hehehe.
MInggu sore itu, dengan teman-teman dekatnya dia mandi di pantai. Sesaat sebelum petaka itu datang, kepada temannya dia berujar :"baywatch mau nyelamatin orang dulu nih". Temannya nyeletuk, "mana ada baywatch berbadan kerempeng gitu". Tiba-tiba ombak datang menyeret orang-orang yang lagi mandi itu, termasuk Rian. Sempat Rian berlari ke pinggir, meski dengan perjuangan keras melawan arus balik ombak. Seharusnya dia selamat. Tapi di belakang dia ada tiga orang yang menggapai-gapai tangannya. Maka berbaliklah dia menyelamatkan tiga orang itu. Ketiganya berhasil selamat setelah digendong dan didorongnya sekuat tenaga. Tidak tanggung-tanggung, tiga lelaki berbadan besar, kontras dengan badannya yang kerempeng. Tiga orang selamat, satu diantaranya pingsan, sementara dua lainnya lemas, tak mampu berkata-kata. Sedangkan Rian, tak diketahui di mana jluntrungnya. Sampai akhirnya, 20 menit setelah kejadian dramatis itu, tubuhnya tergolek di pinggiran pantai. Tak ada denyut nadi. tubuhnya lemas seperti tanpa tulang. Bantuan pernafasan coba dilakukan teman-temannya, tapi sudah terlambat. Rian benar-benar sudah pergi. Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Selamat jalan sobat, wajah berserimu saat kutengok terakhir kali di pembaringan, semoga cermin keridloaan Tuhan atas arwahmu. Usaha terakhirmu menyelamatkan nyawa orang, semoga bisa diteruskan oleh teman-temanmu, juga aku. Allahummagfirlahu warhamhu wa'afihi wakfu 'anhu.
21 Februari 2007
Begitupun pertemuan yang baru saja kualami. Aku harus berpisah dengan orang yang baru kukenal. Rian, sebut saja begitu. Namanya simple, Rahadian. Sebagian temannya memanggil Rian, ada juga yang memanggil Adi. Banyak hal mengesankan yang kudapat dari pria yang sempat mengeyam kuliah di sebuah PTN di Bogor ini, meski akhirnya tidak selesai.
Pria berwajah tirus, dan berbadan kerempeng ini menemuiku dua minggu setalah aku menginjakkan kaki di tanah seberang ini. Ramah, lugas, cekatan dan berprinsip. Ide-idenya liar, dan sering keluar dari mainstream. Itulah kesan pertama yang kutangkap saat pertemuan awal. Setelah beberapa kali bertatap muka, dan ngopi bareng di warung legendaris di kota ini, kami bersepakat : oke, kita akan kerjasama.
Rencana dan aksipun kita buat. Waktu masih satu minggu lebih untuk menyelenggarakan hajatan itu. Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih. Tuhan belum lagi memberiku kesempatan untuk lebih jauh mengenalnya. Dia keburu dipanggil menghadap-Nya.
Sedih, membayangkan kepergiannya. Apalagi orang orang-orang dekat yang selama ini mengenalnya begitu baik. Tak ada tanda-tanda aneh di malam terakhir pertemuanku dengannya. semua berjalan normal dan biasa. Dia penuh semangat dan bersiap menjalankan tugas yang aku mandatkan kepadanya. sampai akhirnya kudengar khabar yang mengejutkan itu. Sempat tidak percaya dengan kenyataan yang aku hadapi. Tapi, ya itulah takdir Tuhan. Ajalnya memang tak bisa dimajukan atau dimundurkan barang sedetikpun. Manusia tak kuasa di hadapan Sang Khalik. Siapa bisa menegosiasi untuk percepat atau perlambat datangnya ajal. Emangnya lelang hehehe.
MInggu sore itu, dengan teman-teman dekatnya dia mandi di pantai. Sesaat sebelum petaka itu datang, kepada temannya dia berujar :"baywatch mau nyelamatin orang dulu nih". Temannya nyeletuk, "mana ada baywatch berbadan kerempeng gitu". Tiba-tiba ombak datang menyeret orang-orang yang lagi mandi itu, termasuk Rian. Sempat Rian berlari ke pinggir, meski dengan perjuangan keras melawan arus balik ombak. Seharusnya dia selamat. Tapi di belakang dia ada tiga orang yang menggapai-gapai tangannya. Maka berbaliklah dia menyelamatkan tiga orang itu. Ketiganya berhasil selamat setelah digendong dan didorongnya sekuat tenaga. Tidak tanggung-tanggung, tiga lelaki berbadan besar, kontras dengan badannya yang kerempeng. Tiga orang selamat, satu diantaranya pingsan, sementara dua lainnya lemas, tak mampu berkata-kata. Sedangkan Rian, tak diketahui di mana jluntrungnya. Sampai akhirnya, 20 menit setelah kejadian dramatis itu, tubuhnya tergolek di pinggiran pantai. Tak ada denyut nadi. tubuhnya lemas seperti tanpa tulang. Bantuan pernafasan coba dilakukan teman-temannya, tapi sudah terlambat. Rian benar-benar sudah pergi. Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Selamat jalan sobat, wajah berserimu saat kutengok terakhir kali di pembaringan, semoga cermin keridloaan Tuhan atas arwahmu. Usaha terakhirmu menyelamatkan nyawa orang, semoga bisa diteruskan oleh teman-temanmu, juga aku. Allahummagfirlahu warhamhu wa'afihi wakfu 'anhu.
21 Februari 2007
Subscribe to:
Posts (Atom)