Walau dosa tak terbilang, tapi pintu maaf dan ampunan selalu dibukakan untuk hamba-Nya yang berserah diri. Walau kebaikan bertumpuk gunung, apalah artinya tanpa beroleh ridlo-Nya
Sunday, October 12
GARUDA ku Sayang, tiketku melayang..
Minggu lalu, aku mengalami pengalaman buruk dengan GARUDA.Sebenarnya kesalahan tidak sepenuhnya di pihak GARUDA. Kalau mau jujur, kesalahan ada padaku. Namun, akibat pengalaman buruk itu, aku benar-benar uring-uringan.
Aku mudik tanggal 24 September 2008. Jauh hari aku sudah pesan tiket lewat orang kantor. Meski tiket sudah kupesan jauh hari sebelumnya, namun aku tetap terkena 'tuslah'. Jarak Jakarta-Jogja yang di hari biasa bisa dibeli dengan harga kisaran 500 ribu, kemarin aku kena harga 800 ribuan. Sengaja kupilih jalur Jogja karena esoknya kebetulan aku ada acara di kota Gudeg itu. Padahal kalau aku memilik tujuan Solo, jarak rumahku lebih dekat dibandingkan harus turun di Jogja. Bila dari Jogja ke rumah perlu waktu tempuh darat kurang lebih 5 jam, maka dari Solo ke rumah bisa 2 atau maksimal 2,5 jam.
Perjalanan mudikku terbilang lancar. Sebaliknya, perjalanan balikku ke Jakarta benar-benar serasa di neraka. Setelah puas hampir 2 minggu lebih di rumah--dipotong dua hari di Jogja dan sehari di Solo--aku memutuskan balik Jakarta tanggal 8 Oktober 2008. Awalnya, lewat seorang karib di Jogja, aku minta dipesankan tiket Jogja-Jakarta untuk keberangkatan tanggal 8 Oktober pagi. Pucuk dicinta ulam tiba, jasa baik kawan karibku itu menghubungkanku dengan 'seseorang' dan memastikan ada satu seat GARUDA pagi hari dengan harga tiket yang tidak jauh berbeda dengan keberangkatan mudikku. Sayang seribu sayang, niatku untuk membayar tiket di tempat tidak memungkinkan. "Tidak bisa", kata 'seseorang itu lewat SMS. Lalu kucoba tanya lagi, bagaimana kalau ditransfer? Ternyata tak ada jawaban. Akhirnya aku memutuskan hunting tiket sendiri di SOLO.
Alhamdulillah, dengan menyeret-nyeret 2 tas plus satu koper, perjuanganku untuk mendapatkan tiket balik tidak sia-sia. Kupeganglah tiket GARUDA untuk keberangkatan tanggal 8 Oktober menjelang siang dengan harga lebih mahal beberapa puluh ribu dari harga tiket Jakarta - Jogja sebelumnya. Aku istilahkan menjelang siang, karena jadual keberangkatanku pukul 11.15 WIB. Karena sudah mantab memegang tiket, aku pun mencoba memanfaatkan waktuku sehari semalam di kota impianku, SURAKARTA HADININGRAT alias SALA atawa SOLO.
Niatku mampir SOLO memang sudah kurencanakan jauh hari. Selain untuk menyambung kembali silaturahmi dengan para senior, juga karena ada beberapa SMS adik-adik yang mengundangku mampir SOLO. Komisariat, tempat pertama yang aku singgahi. Disini aku mendapat sambutan hangat kader-kader muda penuh semangat yang mewarisi sisa-sisa 'perjuanganku' dulu. Lalu aku mampir ke rumah Pak Anas Ruron, ketemu Respati, Waskito Widi Wardoyo, Syifa'ul Arifin, dan telpon sana-sini sekedar menyapa dan berucap minal aidhin wal faizin untuk karib-karib yang tak bisa aku temui.
Bencana itu
Jam 09.00 aku sudah berada di rumah Syifaul. Dari rumahnya aku hanya butuh waktu 15 menit ke bandara Adi Sumarmo. Setelah cukup kangen-kangenan, aku minta diantar adikku---terima kasih Dhafir --ke bandara. Begitu mau masuk pintu pemeriksaan tiket, kutunjukkan tiket GARUDA ku, GA 207. eh la dahalah, petugasnya bilang kalau GARUDA belum buka, karena jadual terbangnya jam 12 an. Hah...aku terperangah hampir tak percaya. Lalu kulihat lagi tiket di tangan. Alamaaaak, benar kata petugas itu. Ternyata tiketku tertulis jam keberangkatan 11.15 dari Jogjakarta. Aku lihat waktu sudah jam 10 kurang seperempat. Masih bisa kekejar mas naik taksi 45 menit ke Jogja. Tanpa pikir panjang aku segera mendatangi loket pemesanan taksi. Setelah diberitahu tarifnya 170 ribu, akupun bergegas memasukkan barang-barangku ke taksi.
Taksi meluncur, tidak lupa aku pesan ke sopir taksi kalau waktuku mepet dan harus sampai Jogja paling lambat jam 10.45 WIB ! Taksipun ngeblas, tapi berhubung masih suasana mudik, jalanan penuh dengan kendaraan dan taksikupun tak bisa dipacu maksimal. Akhirnya dengan sedikit deg-degan, taksiku sampai di pintu masuk bandara Adi Sutjipto. Sebelum turun, aku pesan ke sopir taksi agar jangan pergi dulu. Aku bilang begitu karena masih ingin memastikan apakah aku masih bisa numpang GA 207. Ternyata petugas check in bilang, "udah tutup mas".
Mak dieggg...akhirnya atas saran petugas itu aku harus menunggu penerbangan berikutnya GA 209 sebagai penumpang cadangan. Ternyata sampai GA 209 boarding, tak ada lagi seat tersisa. Akupun gigit jari dan lagi-lagi haru menunggu pesawat berikutnya GA 211 sebagai penumpang cadangan. Seperti kududa sebelumnya, GA 211 pun tak menyisakan satu pun seat penumpang. Tetap bersabar sembari berharap aku terangkut oleh penerbangan berikutnya. Rupanya status sebagai penumpang cadangan terus bertahan untuk penerbangan-penerbangan berikutnya. Aku hitung ada 4 penerbangan GARUDA setelah GA 207, yang tidak memberi ampun buatku untuk menjadi penumpangnya. Untuk kesekian kalinya aku menjadi penumpang cadangan di dua jadual penerbangan berikutnya. Tapi aku mulai tidak nyaman. Stress, dan capeeeeeeeeeeeeee banget.
Dengan penuh ketidakpastian, akhirnya aku putuskan cari penerbangan lainnya. Pertahananku untuk terus bersabar akhirnya jebol juga. Setelah keluar masuk ke loket penjualan tiket, akhirnya aku dapatkan tiket Lion Air dengan harga 799 ribu, hanya sribu lebih murah dari harga tiket GARUDA keberangkatanku ke Jogja tempo hari. Dengan perasaan lega bak menang perang, sekali lagi aku kunjungi petugas check in sembari mengambil tas yang aku titipkan dari siang. "aku ganti pesawat mba", kataku kepada mba-mba itu. Mimik mba-mba itu agak sedikit terkejut begitu mendengar aku pindah pesawat. Buru-buru mba-mba itu minta maaf dan menyarankanku untuk merefund tiket GA207 ku di Jakarta. "Bisa ya?", tanyaku pura-pura bengong. Dalam hati, "akan kusumbangkan uang tiket ini untuk GARUDA".
Dan...kurang lebih jam 19.00 Lion Airku menerbangkanku ke Jakarta. WELCOME BACK JAKARTA !, begitu tulisan yang aku bayangkan di atas langit Bandara Soekarno - Hatta malam itu yang terlihat sangat cerah. Secerah harapanku untuk kembali mencari sesuap nasi----segenggam intan..:-) di Jakarta.
Monday, March 24
Tukang Becak Pasar Legi Ponorogo
Sengaja aku menolak tawaran tukang becak itu. Tujuanku turun di pojok Pasar Legi karena ingin naik ojek biar cepat sampai ke tujuan. Sayangnya aku tidak beruntung malam itu. Ternyata tak satupun tukang ojek yang mangkal di pojok Pasar Legi. Akhirnya kuputuskan untuk mendekati tukang becak tadi.
"Perempatan arah Gontor berapa, Pak?", tanyaku ke tukang Becak. "Gangsal ewu mawon mas (lima ribu rupiah saja mas)", katanya. Tanpa menawar aku langsung mendudukkan bokong di becak. Lima ribu rupiah, bukan ongkos yang mahal dibanding jarak yang harus ditempuh. Makanya aku langsung setuju. Untuk jarak yang sama, ongkos naik bentor (becak motor) di Aceh bisa 10-15 ribu. Apalagi malam hari, bisa naik 20 atau 25 ribu. Hmm....Aceh memang beda, ya orangnya, ya ongkos ekonominya. Adapun tukang becak Pasar Legi itu, buatku adalah ongkos kejujuran. Dia menawarkan ongkos yang wajar, tidak ada keinginan untuk mengambil untung dari penumpang, meski dia tahu penumpangnya adalah orang asing. Bukan penduduk ber- KTP Ponorogo !
Dikayuhnya becak itu. Badannya yang ceking dan umurnya yang sudah senja tidak memungkinkan dia mengayuh cepat. Aku nikmati saja kayuhannya, pelan tapi pasti. Usianya aku taksir sekitar 50-60-an tahun. Susah menebak usia orang yang berprofesi sebagai tukang becak. Kadang wajahnya jauh lebih tua dari umur yang sebenarnya. Kerja keras, siang dan malam, sementara penghasilan pas-pasan pasti berpengaruh langsung terhadap daya tahan fisiknya. Penuaan dini, mungkin istilah para ahli kecantikan ini paling pas mewakili.
Setelah mampir sebentar beli rambutan, si Bapak ini bercerita panjang lebar tentang petualangannya menjadi tukang becak. "Saya ngayuh becak sudah 40 tahun lebih mas", katanya. Pertama kali ngayuh becak di Madiun. Dulu si Bapak ini biasa mangkal di Pasar Besar Madiun. baru tahun 80-an si Bapak pindah ke Pasar Legi, Ponorogo.
Aku tidak enak menanyakan berapa penghasilannya dalam sehari. Katakanlah perhari dia antar 10 orang, maka penghasilannya 50 ribu rupiah. Tetapi aku tidak yakin kalau dia bisa dapat 10 orang penumpang per hari. Apalagi saat ini penumpang tidak seramai dulu. Penyebabnya apalagi kalau bukan munculnya tukang ojek, dan hampir setiap orang sekarang punya kendaraan roda dua. Makin berkuranglah penghasilannya. Untuk menambah penghasilan, si Bapak ini kalau pagi jadi pemulung. "Lumayan, mas", katanya sambil menyebut harga botol bekas "aqua" yang tidak kuingat.
Si Bapak tidak punya tempat tinggal tetap. Saban hari tidurnya ya di emperan toko Pasar Legi. Istrinya sudah pisah. Anak-anaknya sudah lima tahun merantau ke Batam dan tidak pernah ada khabar. Entah masih hidup atau sudah mati, bapak ini tidak tahu.
Rupanya aku terlalau asyik ngobrol. Tempat--perempatan arah Gontor-- yang aku tuju ternyata salah. Alamak, aku kesasar! Bukan perempatan Gontor rupanya. Akhirnya aku menjelaskan ke tukang becak tempat yang aku maksud. Hmm...jaraknya menjadi dua kali lipat dari ongkos yang sudah disepakati. Tidak masalah yang penting sampai, meski harus menyita waktu setengah jam sendiri. Padahal kalau dapat ojek bisa ditempuh dalam waktu 10 menit.
Setelah sampai di perempatan yang aku maksud, aku turun. Kusodorkan ongkos kepada tukang becak itu. Begitu kusodori uang 20 ribu, tukang becak itu mengucapkan terima kasih dan buru-buru menyalami. "Matur nuwun mas, matur nuwun", kata tukang becak itu dengan wajah berseri. Hmm, rasanya ini kejadian pertama, disalami tukang becak. Aku maklum, mungkin dia bersuka cita setelah menerima ongkos lebih dari yang seharusnya. (*).
Monday, February 18
Serunya Ngebut Bareng PO NUSANTARA
Kemarin sore (17/02) ada beberapa BMC balik jakarta naik Nusantara. Ada saya dan ms Yudi dengan NS-19, mas Heru (Khaeruddin Maqdumjati) dengan NS-51?, mas kandidat (Ananto Adji, NS-11), mas Rusdi (NS-61) dan mas Nurby..balik ke Bandung. Mas Heru yang katanya mau balik jam 21.00, ternyata sudah meluncur duluan.
NS-19 keluar dari pool sekitar jam 7-an malam. Rintik hujan mengiringi keberangkan bus kami. Oya, pagi sebelumnya, waktu bus ini datang dari Jakarta sempat mengalami masalah dengan airsuspension-nya. "karet" air suspension-nya pecah lantaran bus menghajar lubang di daerah Demak. Di NS-19 Saya dapat kursi keramat nih, kursi CD. Tapi ga pengen lagi, pegelnya sampe sore belum hilang euy..masih tetep nyaman di kursi deret 1 saja, pemandangan ke depan tetap lapang, tapi juga bisa tidur kalau sudah capek. (Rupanya salah seorang kandidat ketua BMC terinspirasi juga olehku, minta jatah bangku CD). Gimana mas Adji, rasanya duduk di kokpit NA-11? Masih kenceng bus ku kan..hehehe.
Kami beriringan keluar dengan Nusantara putih gambar balon (lupa seri-nya). Bus kami berjalan merayap. Maklum, persis depan pool Nu3tara jalan hancur lebur. Pada saat itu kebetulan ada banyak tronton dan gandengan di depannya. makin komplitlah perjuangan mas Sopir (Mas Solihin?) untuk bisa menginjak pedal gas...
Di depan Nu3tara putih balon, ada Budi Jaya dan Pahala Kencana. Budi Jaya dan PK tanpa kesulitan dibalap NS-19. Nusantara di depanku terus melaju. Tiba-tiba, sekonyong-konyong, mak jegagik, suddenly: Senja Furnindo warna Pink wuzzzzz....ngeblong dari sisi kanan. Busku memang lagi pelan, soale jalan sisi kiri berlubang-lubang. Ga lebih dari 1 menit, si Pink ini bisa disalip lagi NS-19 dari sisi kiri. Tapi ga lama kemudian, lagi-lagi si Pink ini unjuk gigi..wuzzzzz, dan ga pernah kelihatan lagi. (Pagi sekitar jam 8-an, si Pink keluar dari Rawamangun, NS-19 baru masuk).
NS-19 berhenti tiga kali untuk ambil penumpang di agen. Saya ga tahu persis lokasinya di mana, tapi pemberhentian pertama di Demak, kedua dan ketiga di SMG, kalau ga salah terakhir di daerah Krapyak. Bus masih jalan santai, tiba-tiba mas Heru telp, tanya posisiku di mana? Waktu itu NS-19 masih di daerah Demak, sementara mas Heru sudah di SMG. setengah jam kemudian mas Heru sms, memastikan lagi di mana posisiku. MUngkin mas Heru ini sangat "tegang", jangan-jangan NS-51-nya dibalap sama busku. Tapi karena tahu NS-19 masih 30 menitan di belakang, mas heru kayaknya bisikin ke pak Sopir, "tenang aja bang..Belanda masih jauhhhh...:-). Terlebih lagi, busku sempat ada masalah dengan karet pembersih kacanya (wiper). Keduanya bertumbukan, terpaksa berhenti lagi sekitar 10 menit di Kendal. Sama mas kernet, wiper yang kiri direnggangkan ke depan. Meski tetap bergerak, wiper yang kiri tidak menyentuh kaca. Dengan cara manual begini wiper kanan masih bisa berfungsi membantu jarak pandang sopir, mas Solihin. Akhirnya bus mas Heru memang tak bisa terkejar, waktu NS-19 masuk jalan lingkar kendal, NS-51 sudah hampir berangkat lagi dari RM Sari Rasa. wehhh, benar-benar tak terkejar ini bus.
Bus kami, busnya mas Adji, dan busnya mas Rusdi sampai hampir bersamaan di RM sari Rasa. Kira-kira pukul 22.30 WIB. NS-11 persis di belakangku, dan ketika turun, saya bersua lagi dengan mas Adji. Saat itulah, mas Adji tertangkap basah oleh saya : mencermati setiap langkap "si Bening" yang sangat diharapkan bisa duduk bersebelahan dengannya. Tapi apa daya, "si Bening" yang dinilai mas Rusdi 6,5 ini ternyata beda tunggangan---buat mas Rusdi wanita paling bening ya tetap istrinya, salut..type suami setia nih.
lalu jadilah kami bertiga makan rawon bareng. Kata mas Rsudi, "rasa rawonnya aneh",. Aku lahap sekali makan rawon Sari Rasa, saya tidak tahu ini karena rawonnya yang enak atau karena saya yang lapar...:-)
Pukul 11.05, busku berangkat lagi. Kali ini sopir kedua ambil alih kemudi. Saya ga sempat kenalan dengan mas sopir ini. yang jelas, bawanya lebih kenceng ketimbang mas Solihin. Apalagi didukung jalan yang lebih mulus selepas Sari Rasa, dan lalu lintas yang relatif sepi, paling tidak bebas dari lalu lalang motor. Saya ga sempat menghitung berapa banyak bus yang disalip oleh NS-19 selepas Sari Rasa. Selepas tanjakan pertama Alas Roban, Lorena concerto jadi korban pertama. Berikutnya 2 Tri Sumber Urip, termasuk 2 Bintang Jaya (Pariwisata, plat polisi N, karoseri Morodadi Prima), Muji Jaya, Haryanto, PK, Rosin, HJ, GMS, dll. Pertarungan paling sengit sebenarnya malah dengan Nusantara MB 1525, itu lho bus dengan kaca film tujuan Rawamangun. Sejak dari Sari rasa hingga Pamanukan, NS-19 bertukar posisi dengn bus yang satu ini. Memang tidak teruji, driver mana yang lebih yahut, soale setiap bertukar posisi (adu salip) tidak dalam kecepatan maksimal. Misalnya, bus itu sempat disalip NS-19 saat memasuki jembatan, meski masih kencang juga tetapi tidak dalam kondisi top speed. Akhirnya kedua bus juga masuk rawamangun selang beberapa menit, NS-19 pastinya yang duluan.
oya, saya ga sempat melihat NS-19 nyalip KD, dan Raya. Kalau Raya mungkin sudah tidak terkejar, mengingat perbedaan jam berangkat yang lumayan lama. Tapi KD, kemana ini bus. Mungkin saat saya tertidur, ada juga yang disalip. entahlah.
Penumpang "cerewet"
"Hallo", seorang penumpang di deretan kursi paling depan menerima telepon. Suaranya ngebazz banget, "hallo". Ternyata setelah aku toleh usianya masih belasan tahun. Sejak dari Demak, penumpang ini terima telpon beberapa kali, yang dugaanku dari maminya. Dari seberang sang mami coba memastikan perjalanan anaknya baik-baik saja. Si anak, mengadu kalo AC-nya bocor. "Menetes terus ini, tapi ndak apa-apa. Nanti kalau ndak berhenti pakai payung atau rompi aja", katanya dengan logat jawa yang medok buanget. {asli, saya suka banget dengar logat medok jawanya). Saya yang duduk bersebelahan sama mas Solohin berbisik-bisik, "terang saja wong lubang AC-nya ditutup semua, gimana ngga bocor?". Mas Solihin menimpali, "penumpang cerewet", sambil beberapa kali menoleh ke arah penumpang.
Saya maklum kalau mas Solihin agak "sewot". Lha wong saya yang penumpang aja agak risih. Suaranya itu lho, yang ngebazz, medok, dan percekapannya mungkin terdengar sampai kursi paling belakang. Sepertinya dia menyengaja itu agar semua kru bus dan penumpang dengar "ocehannya". Setelah itu si penumpang ini sempat terima telpon sekali lagi, tapi kali ini nadanya sudah berbeda dari sebelumnya. "ndak, ndak apa-apa", katanya terima telpon terakhir kali sebelum akhirnya bus istirahat di Sari Rasa.
Jalan berlubang, sampai kapan?
Hari ini di Kompas aku membaca pernyataan pemerintah kalau jalan di pantura akan diperbaiki setelah musim hujan berakhir. Artinya mungkin masih perlu waktu satu bulan ke depan. Ini kalau merujuk ramalan cuaca BMG bahwa hujan dan cuaca tidak menentu ini baru akan berakhir di bulan Maret.
Kerusakan jalan Pantura yang begitu parah mendorong mas Solihin untuk perpal secepatnya. Dengan kondisi jalan seperti sekarang, para driver bus malam memang butuh tenaga ekstra. Selain harus lebih hati-hati, yang jelas bawa bus malam saat ini jauh lebih melelahkan dari biasanya. "kalau biasanya tinggal nge-Gas dan nge-Rem, sekarang perlu tambahan goyang kanan dan goyang kiri untuk menghindari lubang-lubang itu. "Kemarin malam jalan di sini belum berlubang mas", keluh mas Solihin menunjuk titik-titik lubang di daerah kaliwungu.
Kerusakan jalan Pantura ini memang bukan disebabkan oleh faktor tunggal. Selain cuaca buruk, hujan yang terus-menerus, juga akibat kelebihan beban lalu lalang kendaraan di sepanjang Pantura. Terutama truk-truk tronton dan gandengan yang seringkali membawa muatan di atas ambang batas. Kondisi ini diperburuk lagi oleh kenyataan bahwa kualitas jalan yang dibangun tidak sesuai dengan standar yang seharusnya. para kontraktor mengambil untung dalam proyek perbaikan jalan itu, sehingga kualitasnya dibawah standar.
Bagaimana mengatasi masalah ini ke depan? Pemerintah, dari dulu sudah dikritik tidak serius menertibkan kendaraan-kendaraan berat. Jembatan-jembatan timbang yang tersebar di sepanjang jalan Pantura diduga sebagai sarang pungli. Sehingga truk-truk yang seharusnya tidak lolos, bisa tetap jalan karena membayar sejumlah uang kepada petugas jembatan timbang.
Apakah pemerintah bisa langsung bertindak tegas menertibkan truk-truk/tronton yang kelebihan muatan? Rupanya tidak semudah itu memecahkan masalah ini. Selain harus berhadapan dengan birokrat di lapangan yang sudah pasti sulit "dijinakkan", pengurangan muatan truk/tronton itu ternyata punya implikasi lain. Katakanlah sebuah truk yang biasanya membawa muatan 30 ton, lalu dipangkas separonya, maka perusahaan yang bersangkutan akan menambah/menyewa satu truk tambahan. Jika ini terjadi pada 100 perusahaan, maka akan ada penambahan truk di pantura dua kali lipat. Kalau ini terjadi, Pantura akan semakin sesak. Dampaknya adalah terjadi kemacetan. Karena itu bisa dimengerti jika pemerintah akan secara bertahap menguragi jumlah beban truk-truk/tronton di pantura. Dari 10 persen, ke 20 persen, lalu 30 persen, dan akhirnya 50 persen. (atau terbalik nih?)
Friday, April 6
Jogja, Alon-alon Waton ontime
Apa yang aku alami, dan mungkin dialami oleh hampir semua penumpang pesawat di Indonesia hanyalah potret betapa tidak berdayanya kita. Perusahaan penerbangan, seperti halnya corporat-corporat di semua bidang, selalu tak mau ambil pusing atas kerugian yang dialami konsumen. Tragis memang, saat kita dirugikan tak ada kompensasi yang dipikirkan perusahaan. Tapi kalau mereka yang kita rugikan, kemanapun kita akan dikejar, kalau perlu sampai ke liang kubur. Sungguh tak berdayanya kita.
Perjalanaan Jogjakarta-Jakarta aku tempuh selama kurang lebih lima puluh menit. Separuh perjalanan itu, aku terlelap setelah meneguk jus apple suguhan ‘bidadari-bidadari’ pesawat itu. Mungkin cuma kebetulan, setiap naik pesawat ini, minuman yang kupesan selalu jus apple. Begitu segar, dan aromanya membangkitkan nafsu untuk meneguk dan meneguk terus.
Di Adi Sumarmo, mas G menungguku. Aku sudah dipesan sebelumnya oleh mba S kalau akan ada yang menjemputku. “Nanti ada yang menjemputmu Mas, orangnya bawa tulisan namamu,” pesan mba S via telephone. Benar, setelah aku ambil barang dari bagasi, di depan pintu keluar aku lihat laki-laki sebayaku sambil mengangkat kertas bertuliskan namaku. Aku pun melambaikan tangan. Lalu kujabat tangannya sambil tak lupa memperkenalkan diri. “Amin,” sapaku mencoba ramah. “G”, balasnya sambil tersenyum.
Kami pun melangkah keluar, menuju Kijang Kapsul di parkiran. Sesaat kemudian mobil meluncur membawaku ke Parangkusumo. Selama perjalanan kami ngobrol ngalor-ngidul. Mas G, lelaki yang mengaku baru dikaruniai buah hati ini asli Bandungan, Magelang. “Teman kuliahku dulu banyak yang dari Magelang Mas, dari Bandungan, Muntilan, Payaman, Salaman. Buanyak pokoknya”, aku menyela. Karena aku menyebut Bandungan, dengan antusias Mas G bertanya, “ Siapa nama teman mas Amin dari Bandungan?. Akupun menjelaskan identitas salah satu teman terbaikku waktu kuliah itu. Ternyata mas G tidak kenal.
Obrolan terus berlanjut. Mas G menanyakan umurku, juga pekerjaan, alamat asal dan mengapa aku masih betah melajang. Pertanyaan terakhir ini ternyata jadi panjang. “Ya belum ketemu jodoh mas,” jawabku. “Belum ketemu jodoh, atau memang belum niat cari jodoh?” katanya lagi sambil terkikik.
“Benar kok mas, kalau niat cari jodoh itu sudah dari dulu. Tapi namanya belum jodoh, ya gimana lagi. Dinikmati saja Mas,” aku membela diri.
Sepertinya Mas G sangat memahami penjelasanku. Katanya, jodoh itu memang tak bisa ‘dikejar’. Dia dulu bergonta-ganti pacar, alias tak berjodoh, meski dia sendiri sebenarnya mengaku untuk serius menjalani pacaran itu. Bahkan dia mengaku sudah pernah bertunangan, tapi akhirnya gagal juga. Istrinya sekarang ternyata perempuan yang tak pernah disangkanya. Istrinya dulu adalah adiknya di salah satu pesantren di Magelang. Selama itu si perempuan ini menganggapnya sebagai kakak. Mas G juga menganggap perempuan itu sebagai adik. Dua keluarga mereka saling mengenal baik. Momentum perjodohan itu semakin dekat ketika Mas G mengajak ‘adiknya’ itu ke acara kawinan adik kandungnya. Di acara kawinan itu si adik ikut bantu-bantu di dapur. Saat itulah banyak saudara Mas G menanyakan perempuan ‘misterius’ itu. Setiap ada kerabat dekat yang bertanya, kakak dan saudara-saudara Mas G selalu nyeletuk, “Ini calonnya Mas G”.
Setelah hajatan kawinan kelar, si perempuan itu mencoba klarifikasi atas ketidakenakan yang dialaminya selama hajatan. Ditanya begitu, Mas G pun dengan kelelakiannya berterus terang untuk menawari si perempuan sebagai istrinya. Singkat cerita, jadilah pasangan itu sebagai suami istri yang sekarang sudah diberi momongan usia 8 bulan. Sejak punya momongan itu, Mas G sekarang harus bolak-balik tiap hari Jogja-Magelang.
*****
Parangkusumo. Itu nama pantai. Pertama kali mendengar nama itu saat masih SMA. Salah satu kegiatan ekstra kurikuler di SMA ku adalah beladiri Merpati Putih. Anak-anak biasa menyebutnya EMPE. Waktu itu semua anggota empe harus ke Parangkusumo untuk mengikuti ritual kenaikan sabuk. Aku tak tahu apakah setiap kenaikan sabuk ritualnya mesti dilakukan di Parangkusumo, karena aku sendiri bukan anggota empe, tetapi perguruan pencak lainnya.
Parangkusumo, bagi masyarakat Jawa dan Jogja khususnya, tempat ini memiliki makna khusus. Kawasan pantai yang secara administrative masuk kabupaten Bantul ini, bukan sekedar tempat plesiran, tetapi juga tempat untuk menyepi dan olah kebatinan lainnya. Bagi sebagian orang, Parangkusumo juga dijadikan lokasi untuk mencari penglaris, pangkat, jodoh, dan seabreg kebutuhan dunia lainnya. Orang Jawa juga meyakini bahwa Parangkusumo merupakan tempat berkomunikasi raja-raja Jawa dengan penguasa Laut Kidul.
Kepergianku ke Parangkusumo sudah kurencanakan jauh hari. Meski begitu aku tak punya persiapan khusus. Meski sempat membuat beberapa lembar coretan, ternyata itu tidak jadi kupresentasikan. Hari ini aku menjadi semacam observer untuk sebuah hajatan nasional Kongres Rakyat Sadar Bencana yang difasilitasi oleh Yakkum Emergency Unit. Tidak kurang dari 1000-an orang tumplek bleg di Parangkusumo. Selama tiga hari mereka berdiskusi, sharing pengalaman, termasuk gladi/simulasi menghadapi bencana.
Hari pertama, aku sempatkan diri untuk menikmati deburan ombak dan semilir angin pantai itu. Hawa pantai terasa panas, untungnya langit berselimut mendung jadi panasnya sedikit berkurang. Hamparan pasir sepanjang hampir lima kilometer seolah membawaku berada di tengah-tengah gurun sahara. Di beberapa titik terdapat gunungan-gunungan pasir. Gunungan pasir ini terbentuk karena hembusan angin timur dan barat yang datang silih berganti sepanjang tahun. Karena ada benda, pohon atau bangunan yang menahan hembusan angin berpasir itu, lambat laun jadilah gunungan. Ada yang tingginya dua meter, tiga meter, bahkan ada yang hampir menyerupai bukit. Kira-kira 10-an meter lebih tingginya.
Aku berjalan menyusuri pantai itu. Galur-galur pasir menyerupai riak air membuat mata ini semakin teduh. Sesekali aku jumput pasir itu. Lembut di tangan. Sebagian butiran pasir itu lengket di tangan. Mungkin ini karena kandungan garam yang masih tersisa di pasir itu. Belum benar-benar habis tersedot matahari. Selain itu, pasir di Parangkusumo juga mengandung butiran besi. Bahan mineral yang memang terdapat di hampir semua pantai selatan Jawa. Dengan mata telanjang, aku bisa melihat serbuk hitam diantara butiran-butiran pasir itu. Ini mengingatkanku waktu masih kecil menaruh pasir di atas kertas, lalu di bawahnya aku gerak-gerakkan besi magnet. Lama-lama terkumpul serbuk hitam yang sedikit lengket kalau dipegang.
Entah aku harus menyebut beruntung atau merugi. Hari itu tidak banyak wisatawan yang berkunjung ke Parangkusumo. Di satu sisi aku lebih bebas menikmati deburan ombak dan birunya laut Kidul. Hening, tidak terusik oleh kegaduhan pengunjung pantai. Tapi di sisi lain, aku tak bisa menjadi saksi bagaimana perilaku pengunjung pantai itu secara lebih nyata. Kata penduduk situ, Parangkusumo selalu ramai terutama pada malem Jumat Kliwon dan Selasa Kliwon. Petungan hari yang menurut orang Jawa dianggap sakral. Di dua hari itu, orang dari berbagai tempat dengan beragam latarbelakang ‘berlomba’ melakukan nyepi. Ada yang tidur-tiduran semalam suntuk, ada yang bersila menghadap laut, ataupun duduk dengan kedua lututnya tertekuk dan disandarkan ke dada. Mereka semua, menunggu wangsit, berharap karirnya menanjak, dagangannya laris, ditemukan jodoh, atau sekedar dapat nomor togel. Satu lagi bukti, bahwa modernitas belum berhasil menggilas ‘kearifan-kearifan lokal’ yang diwarisi turun temurun itu.
Sayang, pemandangan seperti itu hanya aku dengar dari cerita orang, tidak pernah aku saksikan langsung. Kalau tidak kali ini, mungkin kali lain aku bisa datang lagi dan melihatnya secara langsung.
Hari kedua, aku kembali lagi melihat pantai yang cuma berjarak 100-an meter dari tempatku menginap. Sepi, hanya satu dua orang duduk-duduk memandang ke laut lepas. Salah satu orang yang ada di situ coba aku sapa. Lelaki berumur—mungkin diatas 60 tahun—itu mengaku dari Solo. Setelah berbasa-basi memperkenalkan diri, lalu mengalirlah obrolan antar kami berdua. Aku memilih lebih banyak diam, mencoba menjadi pendengar yang baik.
“Bapak panitia atau asli sini?” tanyaku memulai pembicaraan. “Bukan, saya dari Solo”, jawabnya ramah. Lalu aku menjelaskan kalau aku sebenarnya asli Madiun, tapi sekarang tinggal di Jakarta. Tidak ketinggalan kalau aku cerita dulu pernah kuliah di Solo, ambil komunikasi.
“Saya dulu kuliah ambil Perbankan Trisakti,” katanya membuka identitas dirinya. “Kemudian saya ditugaskan ke Jerman, dan menetap beberapa lama di sana. Sekarang saya ya begini ini, ke mana saya suka dan memilih apa saja yang ingin saya lakukan,” katanya lagi.
Penampilan orang ini sedikit lusuh. Tadinya aku meragukan kalau dia benar-benar pernah menetap di Jerman. Tapi keraguanku terjawab, setelah ngobrol panjang ternyata orang ini memang ‘melek’ banyak hal. Bahkan beberapa kali dia menggunakan bahasa Inggris. Bukan cuma ungkapan, tapi juga kalimat utuh untuk menjelaskan sesuatu. Dari sekedar basa-basi, obrolan akhirnya mengalir ke hal-hal yang menurutku lumayan serius. Kalau tadinya sama-sama berdiri, akhirnya kami berdua duduk di hamparan pasir pantai itu.
Nyaris tanpa putus, lelaki yang tak pernah menyebutkan nama ini ‘menghujat’ kebobrokan yang terjadi di negeri ini. Kedua tangannya tak pernah diam. Beberapa kali dia juga mengutip teori komunikasi yang pernah aku pelajari di kampus dulu. Lalu, jari-jarinya sibuk membuat coretan-coretan di atas pasir. Tak lupa ia mengutuk betapa tidak becusnya Negara ini mengurus bencana. Koordinasi tumpang tindih, birokrasi yang bertele-tele, juga penilepan dana-dana bantuan kemanusiaan membuat dia seperti orang frustasi. Tak percaya lagi dengan semua yang dilakukan penguasa sekarang.
Kalaupun aku tidak setuju dengan apa yang disampaikan, aku hanya diam. Aku tidak mau berdebat dengan orang yang baru ketemui itu, dan praktis tidak kukenali. Jika setuju, aku pun hanya mengangguk, atau cukup berucap:”ya..ya..ya”. Obrolan akhirnya terhenti setelah orang itu minta pamit untuk melanjutkan laku.
*****
Katanya, dulu sewaktu HB X berkuasa, dia secara rutin datang ke Parangkusumo. Salah satu petilasan yang masih ada sekarang adalah Cempuri. Ini adalah tempat khusus, dimana para selir dikumpulkan, lalu satu persatu digilir untuk melayani sang Raja. Aku tak sempat menengok tempat ini. Lokasinya berada di atas bukit kapur, dan lebih dekat ke Parangtritis. (Pantai Parangtritis, Parangkusumo, dan Parangendog masih berada dalam satu garis pantai. Ketiganya bersambungan dalam radius lima kilometer).
Sekarang Cempuri hanya menyisakan sejarah. Raja-raja Jawa terakhir tidak pernah lagi menggunakan tempat itu untuk menyalurkan hasrat biologis para leluhurnya yang melebihi takaran manusia kebanyakan itu.
Ada kenyataan menarik—meski ini tak ada hubungannya dengan warisan raja-raja Jawa itu---bahwa di Parangkusumo menjamur praktik mesum. Bukan hanya dilakukan oleh para pramunikmat dan lelaki hidung belang, tetapi juga oleh pasangan muda-mudi yang lagi mabuk kepayang. Di siang hari, keadaannya terlihat normal seperti biasa. Tidak ada perempuan-perempuan menor dan berlaku genit menyapa pengunjung. Tapi di malam hari---seperti malam pertama kedatanganku---di wisma-wisma yang aku lewati banyak perempuan memajang diri. Kata warga setempat, perempuan-perempuan itu bukan asli sini, tetapi semuanya pendatang. Hmmm..efek berantai yang selalu muncul oleh berkembangnya tempat wisata.
Ahh..aku tak perlu mengomentari kenyataan itu. Biarlah itu diurus Negara, pemuka agama, atau para pekerja kemanusiaan yang sedang giat memperingati Hari AIDS Sedunia hari ini.
Hari terakhir, aku menyempatkan diri sekedar jalan-jalan di Malioboro. Pesona Malioboro tetap tidak berubah. Pengamennya, barang dagangannya, keramahan pedagangnya, atau bagaimana berdesak-desakannya pelancong memilah-milih barang yang diburunya. Murah dan unik, dua kelebihan ini barangkali yang menyedot ketertarikan pelancong dari waktu ke waktu untuk tidak pernah melewatkan Malioboro.
Kurang afdol kalau orang ke Jogjakarta tanpa mampir ke Malioboro. Dari tempat ini orang bisa memperoleh cinderamata yang serba batik itu. Ada sandal batik, sepatu batik, tas batik, sarungbantal batik, baju-kaos-celana-daster batik, atau kerajinan perak dengan segala bentuknya: sepeda onthel mini, perahu mini, kalung, gelang dsb.
Satu hal yang benar-benar mengobati kerinduanku adalah: makan di warung koboi, angkringan, atau HIK kata wong Solo. Setiap ke Jogja, juga ke Solo, kesempatan untuk wedangan di warung koboi nyaris tak pernah kulewatkan. Ini tak ada hubungannya dengan nostalgia, tapi setiap bisa nongkrong di HIK, kelegaan itu benar-benar terbayar.
Minggu sore, aku balik Jakarta. Kali ini tak ada delay, benar-benar sesuai jadual. Jakarta….aku datang lagi.
29 November 2006