Showing posts with label Sosok. Show all posts
Showing posts with label Sosok. Show all posts

Friday, February 15

Simbahku...


Mbah Umi ziarah ke tanah suci akhir tahun 1970-an. Aku belum pernah bertanya, tahun berapa persisnya Mbah Umi menjalankan rukun Islam kelima itu. Dari cerita orang-orang tua, perjalanan Mbah Umi ke Mekkah penuh perjuangan. Tahun-tahun itu orang-orang Indonesia termasuk Mbah Umi kalau ke Mekkah harus naik kapal laut. Perjalanan memakan waktu berhari-hari, bahkan mingguan. Tidak seperti sekarang, dengan pesawat perjalanan hanya ditempuh dalam hitungan jam.

Saat itu Mbah Umi sudah berstatus janda. Mbah Umar, suaminya sudah menghadap duluan saat ibuku dan anak-anaknya masih kecil. Karena berstatus janda, mbah Umi tidak ditemani muhrim yang sesungguhnya. Jalan keluarnya dicarikan muhrim-muhriman. Aku tidak pernah tahu, siapa orang yang dijadikan muhrim oleh mbah Umi selama di Tanah Suci.

Di kapal, Mbah Umi sempat hampir dibuang ke laut. Kata budhe, Mbah Umi sempat "mati suri" beberapa hari. Hingga akhirnya disangka benar-benar sudah meninggal. Menurut cerita, Mbah Umi bangun dari tidur panjangnya, gara-gara mendengar orang-orang di kapal ada yang menawarkan sayur asem. Banyak orang percaya mithos, kalau seseorang pernah mati suri, umurnya bakal panjang. Mungkin kebetulan, dan pasti karunia Tuhan kalau akhirnya Mbah Umi sempat menikmati hidup di dunia hampir 90 tahun lamanya.

Mbah Umi meninggal, saat aku duduk di kelas 3 SD, persisnya Tahun 1983. Tidak terlalu banyak yang bisa kuingat waktu itu. Sebelum meninggal, Mbah Umi sempat sakit-sakitan selama hampir satu bulan. Selama itu, mbah Umi mendapat perawatan berpindah-pindah. Semua anaknya kebagian merawat Mbah Umi, termasuk dirawat ibuku beberapa minggu. Seingatku, seminggu sekali waktu itu ada dokter yang rutin datang ke rumah untuk ngecek kesehatan mbah Umi. Persinggahan terakhir mbah Umi ditempat anaknya nomor 4, pak Ma'sum, paklikku.

detik2 terakhir menjelang kepergiannya, orang-orang membaca Yasin. Aku sudah bisa baca Qur'an waktu itu, tapi tidak ikutan nimbrung baca Yasin. Maklum, anak seusiaku tidak tahu-menahu dengan urusan seperti itu. Ibu dan bulikku, adalah dua orang anaknya yang tidak bisa menyaksikan saat-saat ruh mbah Umi berpisah dari jasadnya. Waktu itu aku dan ibuku pergi untuk sholat Ashar di masjid tinggalan mbah Umi, jaraknya 10 menit-an dari tempat mbah Umi dirawat. Begitu kami balik, orang-orang sudah sibuk menyiapkan pemandian jenasah mbah Umi.

Aku belum cukup mengerti, mengapa jenasah mbah Umi tidak dimakamkan malam itu juga. Mungkin pertimbangannya waktu itu agar cukup waktu untuk menghubungi sanak saudara Mbah Umi yang tersebar di banyak tempat. Sementara di tahun-tahun itu, akses telpon belum semudah sekarang. Sehingga untuk menyampaikan kabar duka ini harus mengirimkan utusan khusus. Yang ada telp ya ditelp, yag tidak punya telpon terpaksa ya harus didatangi.

Pemakaman dilakukan esok hari. Lokasi pemakaman persis di belakang masjid, setelah sebelumnya aparat Babinsa melarang lokasi pemakaman beberapa puluh meter dari lokasi itu. Tadinya lokasi makam hanya beberapa jengkal dari jalan Lori. Tapi karena tanah itu belum diwakafkan, akhirnya dipindah di belakang masjid. Itulah makam pertama yang kemudian menyusul anak dan cucu-cucu mbah Umi.

Prosesi pemakaman dipimpin oleh Kyai nDurisawo, kalau tidak salah namanya mbah Ali Masdud yang tidak lain adalah sepupu mbah Umi. Aku ingat bagaimana mbah Ali yang gendut dan suaranya menggelegar itu "mentalqin" mbah Umi dan memimpin doa hingga selesai. Hari itu, setelah pemakaman usai, hujan turun begitu lebatnya disertai angin kencang. Memang waktu itu sedang musim hujan. Masuk akal. Aku tidak pernah menghubung-hubungkan hujan itu dengan kepergian mbah Umi, meski beberapa orang belakangan sempat menghubung-hubungkannya. Aku tak percaya itu. Wallahu a'lam.

*****

Mbah Umi, lengkapnya Umi Rofi'ah menikah dengan status perawan. Lahir di Sewulan, MADIUN. Ia dijodohkan dengan Mbah Abu Umar yang sudah berstatus duda, cerai tanpa anak. Kalau tidak salah Mbah Umi adalah perempuan ketiga yang dinikahi Mbah Umar. Karena gagal dua kali dalam pernikahan, Mbah Umar sempat mengembara untuk "menyendiri" beberapa lama. Sampai akhirnya di usia 40-an ketemu Mbah Umi yang masih gadis belasan tahun.

Di tanah yang kemudian menjadi tempat peristirahatan terakhir Mbah Umi itulah, Mbah Umar "babat alas", memulai kehidupan baru. Tanah tak bertuan itu berhektar-hektar, lokasinya agak terpencil, jauh dari perkampungan. Mbah Umar, katanya adalah orang ketiga yang mencoba menaklukkan wilayah "wingit" ini. Dua pendahulunya selalu gagal, kalau bukan orangnya, biasanya ternak-ternaknya yang mati. Saking wingitnya/angker, sering ada kejadian aneh. Pernah katanya, atap rumah yang terbuat dari daun kelapa habis dimakan ulat dalam waktu semalam. Bagaimana tidak aneh, wong di tempat itu banyak dedaunan hijau, tapi ulat-ulat ini lebih memilih daun kelapa kering. Pernah juga, katanya Mbah Umi lihat kerbau makan ranting-ranting bambu kering yang penuh duri. Kejadiannya juga malam hari, setelah itu kerbau jadi-jadian itu menghilang.

Cerita mistis, yang aku sendiri antara percaya dan tidak adalah "Pertarungan tujuh hari tujuh malam" mbah Umar dengan penguasa tanah itu. Entah berhadapan dengan jin, setan atau bangsa lelembut lainnya, yang jelas Mbah Umar bisa menaklukkannya. Aku sebenarnya tidak terlalu percaya. Bagaimanapun aku dibesarkan di lingkungan yang rasional, jauh dari kehidupan mistis. Tetapi kadang-kadang aku tergelitik juga, mencoba untuk bisa memahami cerita yang sebenarnya. Adalah Paklikku, orang yang secara tidak langsung memengaruhiku untuk percaya dengan cerita pertarungan itu. Paklik, dari keluarga Muhammadiyah tulen, alumni pondok modern Gontor, tapi percaya dengan cerita-cerita yang sangat tidak masuk akal itu. Mungkin alasan lain mengapa Paklik percaya dengan kelebihan Mbah Umar adalah cerita tentang "Plawonan".

Aku tidak tahu arti Plawonan sampai sekarang. Ini adalah nama dusun kecil tinggalan Mbah Umar. Konon, di lokasi inilah Mbah Umar pernah menebar garam, yang rasa asinnya baru hilang setelah bertahun-tahun. Singkong yang di tanam di tanah ini, kalau direbus sudah asin meski tidak ditaburi garam. Daerah ini dulu "grumbul", istilah untuk menyebut lokasi angker. Jaraknya hampir satu kilometer dari rumah yang didiami Mbah Umar. Selain menaburi garam, di awal-awal membuka tanah ini, dua ekor sapi yang dipakai untuk membajak dikalungi kain mori. Kain jenis teteron warna putih yang biasanya untuk mengkafani jenasah. Dari sinilah istilah Plawonan katanya muncul. Tapi aku tetap belum tahu, apa arti sesungguhnya. Setelah prosesi ini, tahun-tahun berikutnya tanah bisa digarap, menjadi tambahan sumber kehidupan baru.

Sambil memulai kehidupan baru, Mbah Umar membuka pesantren kecil-kecilan. Santrinya berasal dari Magetan dan sekitarnya. Santri mondok disitu gratis. Mereka tidak dipungut biaya se cen pun. Sebagai imbalan, para santri ikut membantu menggarap sawah. Sayang, pesantren ini tidak bertahan lama karena Mbah Umar keburu meninggal. Sementara anak-anaknya yang laki-laki masih kecil. Praktis tidak ada yang meneruskan.

*****

Sepeninggal Mbah Umar, mbah Umi hidup menjanda. lalu sempat kawin dan membuahkan seorang anak yang tak lain adalah adik ibuku. Tapi perkawinan kedua ini tidak berlangsung lama, karena harus bercerai dengan suami sambungannya. Inilah tahun-tahun terberat yang harus dihadapi Mbah Umi. Hidup menjanda dengan 5 orang anak yang masih kecil-kecil, tanpa tetangga. Hidup bertambah berat karena saat itu masih dijajah Belanda, lalu lebih berat lagi jaman Jepang.

Dengan mengandalkan hasil sawah yang lumayan luas, Mbah Umi bisa membesarkan anak-anaknya. Bahkan bulik akhirnya bisa kuliah di MALANG dan meraih gelar sarjana muda. Satu-satunya anak Mbah Umi yang berpendidikan tinggi.

Pada masa-masa itu, hidup memang benar-benar berat. Pencurian dan perampokan menjadi peristiwa keseharian karena orang harus mempertahankan asap dapur. Mbah Umi pun pernah menjadi sasaran empuk, kriminal-kriminal kelas kampung. Pernah, Mbah Umi kehilangan baju-baju, jarik, perhiasan, bahkan nasi di dapur. Pencuri masuk ke rumah dengan menggali tanah. Lalu dibuat "lorong tikus" yang memungkinkan pencuri masuk ke rumah. Cerita paling seru tentu saja saat Mbah Umi dirampok segerombolan orang. Demi mempertahankan perhiasan yang melekat di tubuhnya, Mbah Umi konon harus rela ditendang oleh orang-orang itu hingga tubuhnya terjengkang. Untungnya, atas usaha keras polisi waktu itu, gerompolan perampok itu berhasil diciduk--bukan pakai gayung--tapi dengan pistol kuno dan borgol. Belakangan diketahui kalau gerombolan ini dikomandani oleh bekas lurah desa yang masih satu kecamatan.

*****

Tidak banyak yang aku ketahui tentang sosok Mbah Umi. Katanya keras, seperti ibuku yang kebetulan wajahnya paling mirip dengan mbah Umi. Ibuku pernah disemprot, gara-gara terlambat sungkeman di hari lebaran.

Momen paling kuiingat dengan Mbah Umi adalah saat lebaran. Seperti biasa, semua cucunya berkumpul di rumah Mbah Umi. Minta Sawo dan jambu kluthuk yang memang banyak pohonnya di sana. Tentu saja sangunya yang ditunggu-tunggu oleh anak kecil seusiaku dulu. Mbah Umi juga pernah meminta ibuku pulang, pasalnya aku dan adikku nangis sepanjang hari.

Aku pernah ditertawakan Mbah Umi. Mbah Umi yang selalu memanggilku Aminan--nama pemberian Bapakku Baladan Aminan--menertawaiku saat aku lebaran duluan ke rumahnya. Bapak dan ibuku belum bisa sungkeman karena masih banyak tamu. Sore-sore, diiringi gerimis aku jalan kaki ke rumah mbah Umi. Begitu di depan pintu, aku mengetuk sambil mengucapkan salam.

"Assalaamualaikum", ucapku dari luar. "Waalaikum salam", dari dalam Mbah Umi menyahut. "Sinten?", lanjutnya. "Amin", jawabku kemudian. Aku menjawab agak takut-takut dengan suara yang sangat kecil. Belakangan aku ketahui, suaraku yang kecil banget, mirip anak perempuan itulah yang membuat mbah Umi tertawa.

Hingga duduk di bangku SMA, aku masih rajin ziarah ke makam Mbah Umi. Namun sejak kuliah aku sudah mulai jarang menengok pusaranya. Terakhir tahun kemarin aku tengok gundukan tanah di belakang masjid itu. Di bawah pohon sawo yang kini tidak lebat lagi buahnya, mbah Umi menikmati tidurnya yang benar-benar panjang.

Kini tidak ada lagi sisa-sisa senandung alam di tanah itu. Tak ada lagi burung Betet yang tiba berombongan saat musim jagung tiba. Tak ada lagi burung Glatik, Jalak, Kepodang, Perkutut, Kacer, yang selalu menyambut datangnya subuh. Di tepi blumbang, kolam kecil untuk wudlu-- belakang masjid itu, dulu aku sempat menyaksikan burung-burung itu melepas dahaga. Hanya Kutilang, Derkuku, emprit dan satu dua perkutut yang masih sempat aku saksikan belakangan. Satu persatu burung-burung itu lenyap, seiring dengan "matinya" aliran air dari atas, keringnya blumbang, dan punahnya pohon-pohon yang dulu begitu rimbun dan hijau. Kini, sepanjang tahun tanah itu silih berganti ditanami tebu, padi, dan palawija. Kandang ayam potong yang dirintis Pak Is, mulai kembang kempis bersamaan dengan mulai ganasnya wabah flu burung.

Aku masih memimpikan, tanah itu kelak hijau lagi, dan ramai lagi. Seperti dulu orang-orang sekitar antri untuk mengambil air di sumur satu-satunya yang terdapat di dusun itu. Aku hanya bisa berharap, sepupu-sepupu dan ponakan-ponakanku yang jauh mengerti tentang agama, bisa melanjutkan warisannya mbah Umi. semoga. Allahummagfirlaha warhamha wa'afihi wafu 'anha.

Wednesday, January 30

Pak Harto Hidup Lagi

sodara-sodara sebangsa dan setanah air,

Hari ini saya semangkin bangga karena sodara-sodara telah memaafkan saya. Saya juga bangga karena sodara-sodara dengan sukarela mengibarkan bendera setengah tiang. Apa yang Sodara-sodara lakuken tidak lain adalah bukti bahwa sodara-sodara menjalanken nasehat para leluhur kita bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang bisa menghargai jasa para pahlawannya. Saya sangat bangga bila sodara-sodara mendukung rencana Pemerintah untuk menganugerahi gelar pahlawan kepada saya. Inilah bukti bahwa saya telah berjasa banyak kepada bangsa ini. Meskipun saya pribadi sebenarnya tidak mengharapkan gelar pahlawan dari Pemerintah. Atas semua itu, saya sampaiken banyak terima kasih, semoga Tuhan Yang Maha Esa membalas kebaikan sodara-sodara.

Sodara-sodara sebangsa dan setanah air,

Meskipun Pemerintah berencana memberikan gelar pahlawan kepada saya, tetapi ada juga sekelompok orang yang tidak setuju dengan rencana itu. Mereka itu menaruh kebencian yang begitu dalam kepada saya, bahkan meski saya sudah di dalam kubur seperti sekarang, mereka masih saja melontarkan kata-kata yang tidak sopan. Sodara-sodara pasti ingat, ketika jenasah saya masih disemayamkan di Cendana, orang-orang yang mengaku sebagai korban kejahatan saya itu demontrasi sambil melontarkan makian dan kata-kata tidak senonoh terhadap saya. Mereka juga menginjak-injak foto saya, meludahi lalu membakarnya. Saya mendapatkan informasi dari intelijen bahwa para pendemo itu matanya berbinar-binar saat mendapat khabar kalau saya sudah meninggal. Sungguh tindakan mereka itu tidak bisa saya mengerti. Mereka mengaku sebagai korban kejahatan saya, padahal mereka sekarang baru kuliah tingkat pertama. Artinya saat saya lengser keprabon di tahun 1998 pun sebenarnya segelintir orang yang mengklaim sebagai korban saya ini masih di sekolah dasar. Kok bisa mereka menuntut saya, lha wong para anggota komunis yang saya penjarakan tanpa proses pengadilan saja sudah memaafkan kok. Ini anak-anak kemarin sore berani-beraninya mengaku sebagai korban dan menuntut saya dihukum.

Sodara-sodara sebangsa dan setanah air,

Saya berharap sodara-sodara tidak terprovokasi dan ikut-ikutan menghujat saya terus. Perbuatan mengutuk dan membuka aib orang yang sudah meninggal itu dilarang oleh tuntunan agama kita. Dahulu, orang tua saya di Kemusuk mengajarkan begini. Kalau kamu mendengar khabar kematian, ucapkanlah inna lillahi wa inna ilaihi roji'un. Saya juga diajarkan, kalau berpapasan jenasah di jalan, sebaiknya berhenti dulu. Sambil mendoakan jenasah itu agar diampuni dosa-dosanya. Demikian juga Sodara-sodara tidak boleh mendahului jenasah yang sedang dalam perjalanan ke kubur. Berjalanlah di belakangnya. Apakah Sodara-sodara melakukan seperti itu? Atau jangan-jangan Sodara-sodara ikut-ikutan menyumpah serapahi saya?

Sodara-Sodara sebangsa dan setanah air,

Jangan terkecoh oleh pemberitaan media massa bahwa saya ini sudah meninggal. Mereka melakukan itu karena memang itulah kehendak saya. Bukan hal yang sulit buat saya mengatur apa maunya isi berita media-media itu. Lha wong semua media itu sahamnya punya anak-anak saya. Sesungguhnya saya ini belum meninggal. Raja itu titisan Dewa, wakil Tuhan di muka bumi. Jadi tidak pernah mati. Saya sebenarnya hanya "mukso". Semua raja-raja di Indonesia ini sebenarnya tidak mati, hanya lenyap sesaat saja. Karena semua raja yang "mukso" akan menitis kembali kepada raja baru yang dipilihnya. Karena itu sodara jangan main-main, karena saya terus memantau aktifitas sodara-sodara dari Astana Giribangun sini. Saya juga masih mendapatkan laporan intelijen tiap hari. Karena itu kalau sodara macam-macam akan saya "Gebuk".

Sodara-sodara sebangsa dan setanah air,

Ada dua wasiat yang ingin saya sampaikan kepada Sodara-Sodara. Pertama, saya masih ingin menjadi raja lagi. Saya akan membayar hutang atas kesalahan-kesalahan dan kekurangan selama 32 tahun saya memimpin bangsa ini. Saat ini saya sudah mengkonsolidasikan seluruh kekuatan dan pendukung saya untuk ikut pemeilihan presiden 2009. Agar lawan-lawan politik saya tidak mengetahui rencana saya, saya akan menitis kepada Megawati. Karena itu sodara-sodara, jangan lupa untuk memilih Megawati Soekarnoputri pada pilpres 2009 nanti. Ingat sodara-sodara, harus memilih siapa di pilpres 2009 nanti...?

Wasiat kedua yang ingin saya sampaikan, silakan sodara-sodara memanfaatkan dana yang selama ini saya kumpulkan melalui yayasan-yayasan yang ada. Semua dana yang ada di yayasan itu, bisa sodara-sodara manfaatkan.Apakah diantara sodara-sodara ini ada yang pernah mendapatkan bantuan beasiswa Supersemar? Bagus-bagus. Inilah sodara-sodara salah satu manfaat yang pengumpulan dana di yayasan itu. Jadi tidak benar sama sekali kalau tuduhan korupsi yang selama ini dituduhkan kepada saya. Melalui Yayasan Supersemar saja sudah ribuan orang yang kita bantu pendidikannya. Intelijen saya saat ini sedang mengumpulkan informasi apakah para pendemo di hari kematian saya itu ada yang pernah menerima beasiswa supersemar atau menerima bantuan lain dari Yayasan saya. Kalau terbukti, saya akan umumkan mereka itu ke semua media milik keluarga saya. Biar masyarakat tahu kalau mereka itu sebenarnya oang-orang yang bermuka dua.

Sodara-sodara sebangsa dan setanah air,

Hal paling penting yang ingin saya sampaikan yakni menyangkut keberadaan surat perintah 11 Maret (Supersemar). Terus terang surat itu versi aslinya saya minta ditanam bersama jasad saya di Astana Giribangun. Saya sudah mempertimbangken secara matang kalau surat ini lebih bermanfaat saya bawa ke liang kubur. Saya khawatir kalau surat ini saya simpen di Cendana atau disimpan di musium, akan jadi masalah lagi di kemudian hari. Terus terang sampai sekarang saya tidak mengerti, mengapa masih ada orang-orang yang mempertanyakan keaslian Supersemar yang saya pengang. Kalau misalnya mereka bisa membuktikan bahwa surat saya palsu, apa yang akan mereka lakukan? Mau menggugat keabsahan saya sebagai Presiden saat itu? Hanya untuk meluruskan sejarah, atau jangan-jangan mereka itu mau mencari pembenar kalau saya waktu itu sebenarnya melakukan kudeta terhadap Soekarno. Itu sama sekali tidak benar sodara. Surat itu asli. Kalau sodara tidak percaya, tanyaken langsung ke Pak M. Yusuf. Saya dan Pak Yusuf memang sudah berkomitmen untuk menyimpan rapat-rapat dokumen asli Supersemar, agar tidak jatuh ke tangan orang-orang yang tidak bertanggungjawab. Ingat sodara-sodara, Komunis itu tidak pernah mati. Dan tetap menjadi bahaya laten. Karena itu sodara-sodara harus selalu waspada terhadap kebangkitan Komunis. Bila sodara menjumpai aktifitas mencurigakan orang-orang komunis, segera laporkan kepada intelijen saya.

Terakhir, saya ingin berpesan kepada Sodara-sodara untuk tetap menjaga persatuan dan kesatuan. Pertahankan NKRI. Amalkan Pancasila dan UUD 1945 secara murni dan konsekuen. Jangan mau diadu domba oleh kekuatan asing yang ingin menghancurkan bangsa ini, baik atas nama HAM, Demokrasi atau isu-isu lain yang dibawa dari barat sana. Kita adalah bangsa timur yang memiliki nilai-nilai luhur. Nilai-nilai itulah yang harus terus kita pupuk dan lestarikan.

Demikian yang bisa saya sampaiken. Selamat menjalankan aktifitas, semoga Tuhan YHM selalu melindungi kita dan membimbing bangsa ini menjadi bangsa yang besar dan bermartabat.

salam,

HM. Soeharto

Tuesday, January 29

Gelar Pahlawan dariku untuk the Smiling General

Tempo hari Om Geis risau dengan perilaku para aktifis yang menuntut pengadilan Pak Harto sebagai perilaku tak islami dan tak berakhlak. Pasalnya, demo itu dilakukan saat jenasah Pak harto belum dikubur. Aku setuju sepenuhnya dengan pendapat Om Geis. Para orang tua, dan guru ngaji selalu menekankan adab menghormati jenasah. Jangankan mendemo, sedangkan mendahului jenasah saja kita dilarang. Pun saat kita berpapasan dengan jenasah, dianjurkan untuk berhenti dulu. Orang yang sudah meninggal juga pantang untuk diungkit2 segala aibnya. Itulah sebagian adab yang harus dilaksanakan oleh orang yang mengaku muslim. Nasehat yang ditekankan oleh orang-orang tua itu sebenarnya menyuruh kita untuk mengingat kematian. Ketika berhenti sejenak di jalan menghormat dijalan, kita perlu refleksi sejenak sambil mendoakan jenasah.

Sekarang, orang sedang ramai memperdebatkan apakah Pak Harto layak dianugerahi gelar pahlawan atau tidak. buatku Pak Harto layak memperoleh gelar itu. Titik. Adalah fakta tak terbantahkan kalo Pak Harto punya andil besar sejak Belanda belum hengkang dari republik ini. Juga fakta tak terbantahkan saat Pak Harto menjadi komandan pembebasan Irian Barat. Apalagi Pak Hartolah adala tokoh kunci penumpasan gerakan komunis di Indonesia. Fakta-fakta sumbangsih Pak Harto terhadap republik ini mungkin tak bisa didaftar dalam ratusan halaman. Olehnya, layak dan sudah sepantasnya Pak Harto digelari pahlawan, apapun gelarnya.

Bagaimana dengan kejahatan-kejahatan politik dan tuduhan korupsi yang dilakukan Pak Harto? Aku juga tak menampik dengan segala kejahatan politik Pak Harto. Kita semua pernah merasakan hidup dalam tirani Pak Harto. Tapi sudahlah, sudah terlalu banyak yang mewakili kecaman dan meminta pertanggungjawaban Pak Harto. Biarlah mereka yang menyuarakan itu. Soal tuduhan korupsi, biar pengadilan juga yang membuktikan.

................to be cont

Friday, April 6

SELAMAT JALAN SOBAT

Ada pertemuan, ada perpisahan. Begitu slogan yang nyaris selalu diulang dalam setiap forum pertemuan sesaat. Tidak semua perpisahan menceriakan. Beberapa pertemuan, kadang harus berakhir dengan urai air mata, bahkan duka yang mendalam.

Begitupun pertemuan yang baru saja kualami. Aku harus berpisah dengan orang yang baru kukenal. Rian, sebut saja begitu. Namanya simple, Rahadian. Sebagian temannya memanggil Rian, ada juga yang memanggil Adi. Banyak hal mengesankan yang kudapat dari pria yang sempat mengeyam kuliah di sebuah PTN di Bogor ini, meski akhirnya tidak selesai.

Pria berwajah tirus, dan berbadan kerempeng ini menemuiku dua minggu setalah aku menginjakkan kaki di tanah seberang ini. Ramah, lugas, cekatan dan berprinsip. Ide-idenya liar, dan sering keluar dari mainstream. Itulah kesan pertama yang kutangkap saat pertemuan awal. Setelah beberapa kali bertatap muka, dan ngopi bareng di warung legendaris di kota ini, kami bersepakat : oke, kita akan kerjasama.

Rencana dan aksipun kita buat. Waktu masih satu minggu lebih untuk menyelenggarakan hajatan itu. Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih. Tuhan belum lagi memberiku kesempatan untuk lebih jauh mengenalnya. Dia keburu dipanggil menghadap-Nya.

Sedih, membayangkan kepergiannya. Apalagi orang orang-orang dekat yang selama ini mengenalnya begitu baik. Tak ada tanda-tanda aneh di malam terakhir pertemuanku dengannya. semua berjalan normal dan biasa. Dia penuh semangat dan bersiap menjalankan tugas yang aku mandatkan kepadanya. sampai akhirnya kudengar khabar yang mengejutkan itu. Sempat tidak percaya dengan kenyataan yang aku hadapi. Tapi, ya itulah takdir Tuhan. Ajalnya memang tak bisa dimajukan atau dimundurkan barang sedetikpun. Manusia tak kuasa di hadapan Sang Khalik. Siapa bisa menegosiasi untuk percepat atau perlambat datangnya ajal. Emangnya lelang hehehe.

MInggu sore itu, dengan teman-teman dekatnya dia mandi di pantai. Sesaat sebelum petaka itu datang, kepada temannya dia berujar :"baywatch mau nyelamatin orang dulu nih". Temannya nyeletuk, "mana ada baywatch berbadan kerempeng gitu". Tiba-tiba ombak datang menyeret orang-orang yang lagi mandi itu, termasuk Rian. Sempat Rian berlari ke pinggir, meski dengan perjuangan keras melawan arus balik ombak. Seharusnya dia selamat. Tapi di belakang dia ada tiga orang yang menggapai-gapai tangannya. Maka berbaliklah dia menyelamatkan tiga orang itu. Ketiganya berhasil selamat setelah digendong dan didorongnya sekuat tenaga. Tidak tanggung-tanggung, tiga lelaki berbadan besar, kontras dengan badannya yang kerempeng. Tiga orang selamat, satu diantaranya pingsan, sementara dua lainnya lemas, tak mampu berkata-kata. Sedangkan Rian, tak diketahui di mana jluntrungnya. Sampai akhirnya, 20 menit setelah kejadian dramatis itu, tubuhnya tergolek di pinggiran pantai. Tak ada denyut nadi. tubuhnya lemas seperti tanpa tulang. Bantuan pernafasan coba dilakukan teman-temannya, tapi sudah terlambat. Rian benar-benar sudah pergi. Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Selamat jalan sobat, wajah berserimu saat kutengok terakhir kali di pembaringan, semoga cermin keridloaan Tuhan atas arwahmu. Usaha terakhirmu menyelamatkan nyawa orang, semoga bisa diteruskan oleh teman-temanmu, juga aku. Allahummagfirlahu warhamhu wa'afihi wakfu 'anhu.

21 Februari 2007

KANG UCUP

Namanya Kang Ucup. Tapi dia bukan Ucup Kelik, salah satu tokoh di Republik BBM. Kang Ucup yang kumaksud adalah orang berpengaruh di Republik ini. Pria berperawakan kecil ini aku kenal beberapa tahun silam. Sebenarnya dibilang kenal juga tidak, tapi aku sempat bertemu beberapa kali, meski sekedar berjabatan tangan atau mendengar gurauannya.

Dulu, dia ‘bukan siapa-siapa’. Orang mengenalnya tidak lebih sebagai konglomerat pribumi dari Indonesia Timur. Perubahan politik sejak reformasi 1998 akhirnya telah ‘menyeret’ Kang Ucup ke tampuk kekuasaan.

Awal pertemuanku dengan Kang Ucup sebenarnya tidak ada yang luar biasa. Semuanya berjalan normal, sebagaimana pertemuanku dengan orang-orang hebat lainnya. Tentu saja pertemuan yang paling sering terjadi adalah saat bulan Ramadhan. Orang-orang tua, dari tahun ke tahun selalu mengadakan buka puasa secara bergiliran. Tanpa terkecuali buka puasa di rumah Kang Ucup. Juga pertemuan-pertemuan saat halal bihalal. Rumah Kang Ucup yang pertamakali aku datangi adalah rumah di daerah Menteng, dekat Taman Suropati. Di rumah inilah, aku dan rombonganku biasanya ‘menyambangi’ Kang Ucup. Ini terjadi sekitar akhir 2000, saat-saat awal aku menginjakkan kaki di Jakarta.

Rumah berikutnya yang aku datangi di Jalan Denpasar, kawasan Kuningan. Kalau tidak salah pada pertengahan tahun 2003. Saat itu, kami mencoba mengadukan nasib, meminta solusi atas konflik yang terjadi antar kami. Sebagai salah satu orang tua, dan waktu itu dia menduduki posisi strategis di republik ini, kami percaya bahwa suara Kang Ucup akan didengarkan oleh adik-adiknya. Sayang, konflik berkepanjangan dan sudah kronis antar kami ternyata tak bisa diselesaikan pada pertemuan malam itu. Padahal waktu itu kami sangat berharap, pernyataan-pernyataannya yang sedikit menguntungkan kubu kami, bakal membuat lawan kami keder. Nyatanya tidak. Konflik tetap berlangsung, dan baru bisa didamaikan akhir tahun 2004.

Aku bertemu lagi dengan Kang Ucup, awal tahun ini, menjelang hajatan Makassar. Seperti biasa, kami mendengarkan ’ceramahnya’, lalu ditutup dengan jabatan tangan. Di pertemuan ini, aku sendiri punya dua misi. Pertama, terkait dengan hajatan Makassar, dan kedua, aku ingin melobbynya untuk membuka acaraku di Padang. Hanya misi pertama yang berhasil, sementara yang kedua gagal, karena ada persoalan teknis. Kalau tidak salah, pertemuanku dengan Kang Ucup di selatan Monas ini adalah kali pertama sejak ia menjadi orang penting di republik ini. Sejak itu, aku belum ketemu lagi dengan Kang Ucup. Maklum, bukan perkara mudah sekarang kalau ingin ketemu Kang Ucup. Terlalu banyak aturan kalau ada orang yang ingin menemuinya. Saat itu saja aku hampir tertolak, gara-gara mengenakan jeans. Untungnya, jeansku berwarna gelap. Jadi aku lolos dari ’hadangan’ para bodyguardnya yang sangar-sangar itu.

Tadi malam (17/9), aku mendengarkan lagi ’ceramah’nya Kang Ucup. Kali ini Kang Ucup didaulat untuk memberikan sambutan di acara kangen-kangenan dan hari jadi paguyuban kami. Ada yang sedikit berubah dengan penampilan Kang Ucup tadi malam. Kalau biasanya Kang Ucup ’cuma’ mengenakan kemeja putih panjang, tanpa dimasukkan, tadi malam ia mengenakan stelan jas lengkap dengan dasinya. Penampilan paling keren yang pernah kulihat.

Seperti biasa, di setiap sambutan-sambutannya, Kang Ucup selalu melontarkan guyonan-guyonan segar. Memang guyonannya tidak selucu Gus Dur. Namun, aku merasa ceramah dan sambutan Kang Ucup tidak pernah membosankan. Kocak dan lugas. Menariknya lagi, Kang Ucup selalu memberikan sambutan tanpa teks, kecuali di acara-acara kenegaraan saja. Aku akui Kang Ucup memang pintar dan percaya dirinya sangat tinggi. Saking percaya dirinya, kadang ia membuat pernyataan-pernyataan blunder. Kalau sudah begitu, wartawan lah yang paling diuntungkan. Lihat saja, bagaimana dia membuat statemen tentang perundingan RI-GAM, pernyataannya tentang ’kandang ayam’ yang menyulut kemarahan para guru, atau pernyataannya terkait pemberlakuan Perpres 36/2005 tentang pengadaan tanah untuk pembangunan infrastruktur.

Tadi malam Kang Ucup menyinggung soal perda Syariah, masa depan paguyuban kami, peran Indonesia di percaturan global, dan potensi sumberdaya alam Indonesia untuk mengatasi keterpurukan saat ini.

Soal perda syariah, Kang Ucup bertutur soal pembelaannya atas pertanyaan-pertanyaan wartawan asing. Bagi Kang Ucup, tidak ada yang salah dengan perda syariah. Dalam pandangannya, perda syariah tak lebih dari peraturan biasa untuk menertibkan ketidakteraturan sosial yang ada. Dan menurutnya itu sebagai hal yang wajar, apalagi dikontekskan dengan otonomi daerah. Daerah-daerah memiliki hak untuk mengatur daerahnya, sebagai konsekuensi pemberlakukan otonomi daerah yang sudah menjadi konsensus nasional. Menurutnya, tak perlu dipersoalkan mengapa muncul perda antiminuman keras, atau perda anti pelacuran. ”Memangnya di negeri Anda (Barat dan Eropa), minuman keras tidak dilarang? Bukankan disana minuman keras hanya dibolehkan untuk orang-orang yang sudah berusia 18 tahun ke atas. Tidak ada ceritanya anak-anak umur 10 tahun boleh menenggak minuman keras. Jadi perda syariah itu hanya untuk mengatur ketertiban saja”, bela Kang Ucup.

Meski begitu, Kang Ucup menentang keras terhadap upaya kelompok-kelompok tertentu yang menginginkan pemberlakuan syariat Islam di Indonesia (sebagai hukum positif). ”Mau menegakkan syariah Islam, memangnya selama ini kita tidak menerapkan syariah Islam? Sejak lahir, saya dan orang tua sudah menerapkan syariah Islam. Apakah selama ini ada hambatan untuk menjalankan sholat, puasa dan kewajiban syariah Islam lainnya?, gugat Kang Ucup.

Demikian juga soal penerapan hukum rajam dan potong tangan. Sekarang ini Cuma Arab Saudi yang masih menerapkan hukum itu (aku sebenarnya tidak terlalu yakin kalau Cuma Arab Saudi). Kalau hukum rajam diterapkan di Indonesia, akan ada banyak kendala. Coba bayangkan, katanya. Akan sangat sulit untuk menjatuhkan hukuman atas pelaku perbuatan zina. Tidak saja dibutuhkan 4 orang saksi dewasa yang waras, tetapi saksi itu juga harus melihat dengan mata kepala sendiri saat “timba dimasukkan dan dikeluarkan dari sumur”. Saat mengatakan ‘timba dan sumur’ ini Kang Ucup minta maaf. Istilah itu dia pakai untuk menggantikan beradunya dua alat kelamin orang yang melakukan perzinahan. Jadi hukum rajam itu akan sia-sia saja kalau diterapkan di Indonesia.

Pada kesempatan itu Kang Ucup juga menyinggung soal peran ekonomi penopang negara. Katanya, Negara itu diperhitungkan kalau ekonominya kuat. Lihat saja, katanya, ”Singapura itu meski kecil, tapi kalau Lee Kuan Yew ngomong ya didengarkan orang. Demikian juga Malaysia, kalau Mahathir ngomong ya diperhitungkan orang. Lha, kita?. Bagaimana bisa didengar, sementara kekuatan ekonomi kita tak bisa memengaruhi negara-negara lain. Tidak usah jauh-jauh, pengaruh ekonomi kita di negara kawasan Asia Tenggara saja sangat kecil. Karena itu Kang Ucup mengingatkan lagi, era pasar bebas sekarang tidak bisa tidak harus dihadapi Indonesia. Dan itu butuh pengerahan segala sumberdaya yang dimiliki Indonesia.

Meski begitu Kang Ucup masih punya kebanggan, yaitu soal sebutan Indonesia sebagai negara demokrasi terbesar ke-3 di dunia. Sebenarnya kan Ucup tidak setuju dengan predikat negara demokrasi terbesar ketiga di dunia. ”Justru kita ini sebagai negara demokrasi terbesar di dunia. Presiden dan Wapres kita dipilih secara langsung oleh rakyat, tidak kurang dari 70 juta. Di Amerika, pemilih yang menggunakan hak pilihnya tak lebih dari 40%, dan jumlahnya tidak lebih dari 60 juta pemilih. India, pemilihan presidennya tidak langsung, tetapi ditunjuk oleh parlemen (?).

Terakhir, Kang Ucup mengingatkan agar para alumni paguyuban ini tidak marah-marah kepada pemerintah. ”Kalau Anda marah-marah, sebenarnya Anda memarahi diri Anda Sendiri. Coba lihat, Ketua MK-nya orang kita, Ketua BPK orang kita, Ketua MA orang kita, Wapres juga orang kita. Lha kok masih marah-marah (?????).

Bukan marah Kali Kang, tapi ngritik. Boleh dong, rakyat ngritik penguasanya. Katanya bangga sebagai negara demokrasi terbesar, masak ngritik aja ndak boleh ????????

21 September, 2006

Siti Nurhaliza Berkahwin

Jangan sekali-kali percaya pada rumor, apalagi gosip. Apalagi gosipnya infotainment. Rumor, begitu juga gosip bukanlah cermin dari fakta yang sebenarnya. Makanya orang sering menyebutnya dengan kabar burung. Pendapat itu tidak salah, tetapi juga tidak sepenuhnya benar. Tengok saja, gosip-gosip atau rumor tentang selebritis yang ditayangkan berbagai media selama ini biasanya berakhir dengan terungkapnya sebuah fakta. Artinya, munculnya suatu gosip atau rumor itu selalu dipicu oleh fakta, meski kadang masih samar-samar. Pintar-pintarnya ‘kuli flashdisk’---dulu wartawan disebut dengan kuli tinta, lalu kuli disket, dan sekarang eranya flashdisk, makanya kusebut ‘kuliflashdisk---jika akhirnya rumor atau gosip itu pelan-pelan tersingkap misteri kebenarannya.

Gosip dan rumor, tak lebih dari realitas media. Karena realitas media tidak selalu mencerminkan realitas yang sebenarnya, maka kita tak boleh memercayainya. Bukankah realitas media tidak pernah identik dengan realitas sebenarnya? Kira-kira begitulah teori komunikasi yang samar-samar masih aku ingat dulu. Realitas media pada kenyataannya selalu dipengaruhi oleh faktor eksternal, entah kebijakan redaktur, setting politik-sosial saat itu, hingga subyektifitas si kuli flashdisk. Entahlah, tapi aku masih meng-amini kebenaran teori itu. (Aku juga percaya, EMYE, Husni, Ulin, UUT, Ulil, Ichwan, Barly, Andi ’Ableh’, dan teman-temanku yang jadi ’kuli flashdisk’ itu pasti juga memegang teori itu, sampai kini).

Tentang gosipnya Siti---siapa lagi kalau bukan Siti Nurhaliza—yang berkahwin dengan duda berkepala empat itu, kalau tidak salah sudah muncul sejak awal tahun lalu. Banyak pengagumnya yang siap-siap berpatah hati kalau Siti benar-benar berkahwin. Aku, adalah satu dari jutaan penggemarnya yang diledek patah hati kalau Siti berkahwin. Tapi sumprit deh, kalau aku dikatakan patah hati, itu cuma gosip. Benar-benar gosip seribu tiga, alias murahan. Memangnya ndak ada gosip lain apa yang lebih keren? Kenal juga tidak sama Siti, masak patah hati? (kalau kenal dengan Siti yang di kantor itu, memang tak terbantahkan).

Aku tahu Siti Nurhaliza, kalau tidak salah di penghujung tahun 1997. Lewat lagu Cindai yang memopulerkannya di seantero negeri, Siti tak pelak menjadi biduanita pujaan tahun itu. Suaranya yang merdu, parasnya yang jelita, dan tutur katanya yang santun, membuat ia digemari laki-perempuan dari semua usia dan strata sosial. Setelah Cindai, muncul lagu-lagu berikutnya, Betapa Kucinta Padamu, Damak, Joget Pahang, Es Lilin, Bisikan Asmara, Bicara Manis Menghias Kalbu, atau Beradu di Khayalan yang meledak belakangan.

Tak satupun lagu Siti yang kuhafal. Tapi, sebagian besar lagu-lagunya aku koleksi. Berupa kaset, VCD, juga MP3. habis..enak sih di kuping hehehe. Melankolis memang, sentimentil gitu. (Tapi jangan salah, meski aku ini penikmat lagu-lagunya Siti, juga suka lagunya Queen yang ngerock itu, juga lagunya Bob Marley, pokoknya tergantung suasana hati deh).

Soal kekagumanku pada Siti, sudah menjadi rahasia umum. Aku pernah dapat hadiah ulang tahun berupa kaset albumnya Siti (terima kasihku untuk dokter itu). Juga, setiap stasiun TV tertentu memutar lagunya Siti, teman-teman berlomba memanggilku. ”Min, ada Siti Min”, begitulah cara teman-temanku yang antusias ingin memuaskan ruhaniku. Tapi, bagaimanapun kekagumanku pada Siti masih wajar-wajar saja. Aku bukan penggemar gila, misalnya sampai menyimpan koleksi foto-fotonya sedemikian rupa sehingga (kata-kata ini benar-benar aku benci. Kata-kata yang sebenarnya pelarian atas ketidakmampuan kita mendeskripsikan sesuatu. Kamu biasa menggunakan kata-kata sedemikian rupa sehingga ini ngga?). Aku juga punya pembenar kalau aku ini bukan penggemar gila. Saat Siti manggung di Trans TV tempo hari, aku tidak pingsan kok, juga tidak berteriak-teriak histeris. Biasa saja....meski aku berdiri beberapa jengkal dari Siti menyanyi.

Ada hal yang menarik dari berkahwin-nya Siti. Pokoknya serba lucu-lucu deh. Di sebuah milis humor, seseorang memosting foto-foto dia bersanding dengan Siti, sejak kecil hingga detik-detik perkahwinannya. Lengkap dengan caption masing-masing foto itu. Aku pernah mendapatkan dua postingan dengan dua versi. Tentu semua itu cuma rekayasa teknologi. ”Mengapa Kau tega mengkhianatiku?”, ”Teganya Engkau Menikah dengan Duda berbau tanah”, ”Kutunggu Jandamu”, dan beberapa baris kata lainnya tertulis lugas di bawah foto-foto itu. Hmmm....kalau saja aku bisa melakukan itu, mungkin sudah kulakukan juga ide cerdas itu. Apadayaku....

Itu cuma lelucon. Jangan dibilang norak, konyol, apalagi narsis. Terimalah itu (dengan lapang dada) sebagai bentuk ekspresi kekaguman seseorang terhadap Siti. Kalaupun itu tidak dilakukan, batinnya tidak tersiksa kok. Tidak patah hati. Menerima kenyataan, kalau Siti sekarang sudah milik duda itu. Janur kuning sudah melengkung, telanjur layu malah. Apatah masih mengharap ’cintanya’ Siti? Ada-ada saja.

.....Kini berlaku,
Semua kenangan,
Sepi berlaku membelai perasaan,
Tanpa kusadari kau menghilang bersama bayangan,
Air mataku menjadi saksi kerinduan....(Beradu di Khayalan).


(Untuk dua temanku: Janjiku untuk nggosipin Siti di hamparan rumput Monas malam itu, terbayar sudah ! Aku mau berkahwin hehehe)

13 September 2006

Mas BEM

Mas BEM,

Dia lelaki asing buatku. Bahkan sangat asing. Nama aslinya pun hingga sekarang aku tak ingat. Cuma tiga huruf yang aku tak pernah lupa: B...E...M. Dibilang kenal sebenarnya juga tidak. Bertemu muka saja sampai sekarang belum pernah.

Aku mengenal pria baik ini saat awal-awal memasuki dunia friendster. Kebetulan saat itu yang lagi aku uber adalah teman seangkatan dan sealmamater. Lalu ketemulah dengan pria baik ini. Aku memang tidak kenal sampai sekarang. Tetapi aku sangat yakin, sejak pertama dulu ’bertegur sapa’ hingga saat ini, bahwa dia memang pria baik. Keyakinanku bukannya tidak berdasar. Kesaksian orang-orang dekatnya, dan begitu banyaknya teman-temannya, makin meneguhkan keyakinanku, dia pria baik. Kalau saja aku ini perempuan, mungkin aku tak akan ragu berterus terang untuk mencintainya. Beruntung benar Perempuan yang mendampingi perjalanan hidupnya.........

Dulu, aku pernah berhasrat kuat menemuinya. Hanya untuk ngobrol, bertukar pengalaman dan berbagi cerita sebagai sesama alumni. Aku pernah berjanji beberapa kali via sms kalau ngga salah. Sayang, dia memang sibuk, dan aku juga sok sibuk. Tuhan memang belum ’menjodohkan’ pertemuanku dengannya. Mungkin, suatu saat jika pertemuan itu akan membawa perubahan hidup yang lebih baik, Tuhan pasti akan membantuku. Kapan ya mas, bisa ngobrol?

Saat ini aku hanya bisa menduga-duga. Kakak kelasku ini punya kelapangan hati yang maha luas (mahanya pakai m kecil, biar ngga menyekutukan Tuhan). Ringan tangan, tanggap membantu kesusahan orang lain. Curahan cintanya mungkin...ah..aku takut salah menilai....Tuhan, aku Cuma minta Kau pertemukan dengan orang-orang yang punya kelapangan hati dan kedalaman cinta. Jika ada 1000 BEM, pertemukan semua denganku..

Terimakasih mas B E M

01 Agustus, 2006

I love you full..........

I Love you fulll.....,

sapaan cinta nan hangat, dari seorang Mbah Surip. Malam itu aku kali pertama menikmati suguhan lagu-lagu kocaknya. Lagu pembuka yang dibawakannya malam itu menandai dimulainya "Kenduri Cinta". Sebuah hajatan 'penyejuk' yang sudah tidak aku datangi lebih dari dua tahun.

Rambut Gimbal Mbah Surip, tak bisa kupungkiri menjadi daya tarik sendiri, selain bait-bait lagunya yang kocak, simple, tapi membumi. Dekat, sangat-sangat dekat dengan fenomena keseharian kita.

Selain Mbah Surip, ada juga mba Bertha---siapa yang tak kenal perempuan dari Malang yang melahirkan banyak penyanyi handal ini---dengan si kecil Yasmin. Gadis kecil anak semata wayang Bertha ini ikut menghangatkan suasana malam itu. Saat mbah Surip melantunkan lagu 'Bangun Tidur' yang sudah diubah syair dan aransement versi mbah Surip ini, Yasmin beberapa kali ikut nimbrung. "Bangun tidur...tidur lagi..bangun tidur...tidur lagi...banguuuuuuuuuun....tidur lagi", suara Yasmin Jernih dan menggemaskan. Bukan cuma itu, Yasmin juga ikut-ikutan menutup lagu mbah Surip dengan : "I love you fulllllll..........teriak Yasmin polos". Kami semua tertawa malam itu.

*****

Kenduri Cinta, walau tanpa iringan Kyai Kanjeng, ternyata masih menyedot daya tarik orang. Kebesaran Cak Nun, boleh jadi tidak seperti lima atau sepuluh tahun lalu. Tapi, kharismanya tetap menjadi daya tarik tersendiri dan membuat banyak orang tetap 'tergila-gila' dan selalu tidak ingin melewatkan pentas-pentas yang digelarnya. Kedatangan mereka entah sekedar 'membuang sepi' atau memang benar-benar ingin memperoleh siraman penyejuk ruhani, yang jelas Cak Nun masih eksis. "Paling tidak konsistensi Cak Nun dengan hajatan Kenduri Cinta-nya membuktikan bahwa Cak Nun masih eksis", kata b'Marwan malam itu yang diamini oleh om Denny, pemain sinetron yang belum begitu kesohor.

Bagiku sendiri, bukan Cak Nun, yang menjadi magnet kedatanganku malam itu. Kedatanganku hanya kebetulan, bahkan mungkin kecelakaan. Sudah menjadi kebiasaanku, untuk datang sekali dalam seminggu 'menengok' kerumunan orang-orang di TIM, sembari menikmati nasi goreng kambing, atau kopi jahe-nya Gondrong di kantin ujung tempat itu. Juga karena kebetulan, kedatanganku malam itu dipertemukan dengan kolega-kolega lama.

VYM, pria dari pesisir utara Jawa Timur ini terakhir kutemui saat menjelang hajatan Makassar. lebih dari setengah tahun lalu. Penampilannya tidak berubah, tetap rapi dan necis. Santun, ramah, dan sangat menghargai orang. Perutnya mungkin yang banyak berubah, makin buncit. Simbol 'kemakmuran', ujar b' Marwan, penyair pinggiran yang sering dikatai 'gila'. Aku tak membantah, VYM adalah satu dari sekian 'legenda' yang terus menjadi buah bibir di kalangan adik-adiknya, terutama menjelang hajatan-hajatan politik tiba.

Pernah, aku bertandang ke rumah ketua umum partai tempat VYM bernaung. Mr. fulan yang belakangan dihebohkan oleh tayangan-tayangan gosip itu dengan lugas berkomentar soal hebatnya VYM ini. Katanya, partai yang dipimpimnya membutuhkan orang-orang seperti VYM. Di mata dia, VYM adalah salah satu contoh hebat buah tempaan pesantren 'Hijau-Hitam'.

Aku tak heran dengan pujian Mr. Fulan terhadap VYM. Kalaupun dalam beberapa momentum politik dia 'gagal' mencapai puncak, itu soal waktu saja. kegagalannya adalah 'keberhasilan yang tertunda'. Kalau semua sumberdaya sudah dikerahkan, tapi tetap saja jadi runer-up, itu namanya garis tangan. Tapi yakinlah Mas, garis tanganmu akan sampai ke puncak. Hanya soal waktu saja. Moga 2009 menjadi tahun keberuntunganmu....aku belum berpikir akan menyusulmu. Tapi, aku tak pernah tahu rencana terbaik Tuhan untuk diriku...sukses untukmu!

12 Agustus, 2006